Minggu, 21 Juli 2013

Aku Ingin Memelukmu



Aku ingin memelukmu
Walau rengkuhan jarak itu tak pernah mengizinkan kita bertemu

Aku ingin memelukmu
Walau jemari kita belum saling menggenggam sampai detik ini

Aku ingin memelukmu
Walau kita belum saling tahu dan bertemu

Aku ingin memelukmu
Walau tinggi badanmu jauh diatasku

Aku ingin memelukmu
Saat kamu kelelahan menjalani riuhnya aktivitas
Saat kamu rapuh dan menangis
Saat kamu merasa bahwa dunia terlalu keras untuk kaujalani sendiri
Saat kamu mengira tak seorangpun yang peduli pada perasaanmu

Aku ingin memelukmu
Saat pertama kali aku membuka mata dari tidur lelapku
Saat hanya kamu yang kulihat dibangun pagi hariku

Aku ingin memelukmu
Di bawah hangatnya sinar mentari pagi
Di bawah teriknya surya yang meradang garang
Di bawah redupnya matahari kala senja
Di bawah sinar rembulan dengan hiasan bintangdi langitnya

Aku ingin memelukmu
Saat angin dengan nakalnya menggelitikmu dan meniup lembut rambutmu

Aku ingin memelukmu
Saat rindu mengganggu laju kerja otak dan hatimu

Aku ingin memelukmu
Saat langit sedang menenun benang-benang hujan
Lalu kita saling berpeluk dibawah deras rindunya
Hanya berpayung rambut basah dengan balutan senyum bahagia
Sungguh, aku mencintaimu

Dear,Kamu: Pemberi Harapan Palsu

Perkenalan itu membuat kita semakin dekat. Entah kedekatan apa yang bisa ku jelasakan pada mereka. Aku bukan temanmu kan? Iya bukan. Tapi, jika aku bukan temanmu lalu peran aku disini sebagai siapa dan sebagai apa sayang? Kamu tak pernah mau memperjelas keadaan ini. Bukannya aku terlalu terburu-buru dengan keinginanku untuk memilikimu, tapi sampai kapan aku akan seperti gula yang hanya dijadikan pemanis ketika hidupmu sudah terlalu pahit untuk kamu rasakan sendiri? Aku tak akan berharap banyak jika kamu memang tak menginginkanku. Tapi, apa kabarnya dengan hatiku ini?

Ingat ketika aku terluka karnanya? Kamu hadir sebagai kunang-kunang yang mencoba menerangi jalanku meskipun cahaya yang kamu miliki tak seterang cahaya lilin. Kamu terus mencobanya demi menyemangatiku, mengobati setiap lukaku, dan menghapus goresan goresan kecil yang ada dihatiku sampai hatiku benar-benar sembuh dari rasa sakit itu. Bahkan banyak cara yang kamu lakukan demi membuatku sembuh. Awalnya aku kira kamu hanya salah satu dari ribuan orang disekelilingku yang hanya ingin membuatku bangkit saja, tapi perkiraan itu ternyata menjadikan perasaan ini mengalir dalam darahku. Kamu terus menyiraminya hingga perasaan ini berubah menjadi penyembuh segala lukaku.

Sehari… Dua hari… Tiga hari… Empat hari… Lima hari… Enam hari dan seminggu… kedekatan ini semakin dekat. Kamu yang tadinya begitu jauh dan tak terlalu ku kenal sekarang malah semakin mendekat. Seperti orang kelaparan yang begitu mendapat makanan dia langsung bersyukur, dan rasa syukur itu sangat aku rasakan ketika ada kamu. Kamu memberiku segala makanan yang benar-benar aku butuhkan, kasih sayang, perhatianmu dan masih banyak lagi sehingga aku yang kelaparan akan itu semua sekarang sudah terpenuhi karna diberikan semuanya olehmu.

Dan dua minggu setelah itu… aku selalu merasa kamu ada disini. Entah aku yang terlalu rindu kamu atau aku yang terlalu takut kehilangan kamu. Semuanya terasa bahwa yang aku inginkan selalu mementingkan keegoisanku, tapi kamu bilang ini bukan keegoisanku, semata-mata hanya perubahan perasaanku yang semakin hari semakin dalam. Iya, mungkin karna itu.

Lalu, beberapa minggu kemudian… sudah tak ada lagi kabarmu yang kamu kirim ke ponselku. Sudah tak ada lagi, benar-benar sudah tak ada lagi.
Jadi yang kemarin-kemarin itu apa maksudnya? Tunggu, bukan aku yang terlalu percaya diri kan? Kamu datang, kamu berikan yang aku butuhkan, kita bersama-sama, selalu bersama-sama tanpa ada jarak diantara kita lalu kamu memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan? Hanya itu? Kamu memutuskan untuk pergi tanpa satu atau beberapa kalimat? Kamu tak pernah tahu jika aku selalu menunggu kamu pulang. Pulang, iya pulang. Dimana kamu kembali padaku dan menganggap aku sebagai rumahmu. Tapi aku malah kehilanganmu.

Aku bodoh. Tak bisa mengertimu. Sekarang aku tak tahu harus mencarimu kemana. Benar-benar tak tahu. Aku kehilangan arah. Aku memutuskan mengirim pesan ke ponselmu. Hanya itu yang aku bisa, iya hanya itu dan tak tahu setelah itu apa yang akan kulakukan disini,tanpa kamu.

Pesan pertamaku untukmu…
“Hai, apa kabar?”
Hanya itu yang aku kirim. Aku menunggu, sampai akhirnya setelah aku tahu jika nomormu sudah tak kamu gunakan lagi. Pada akhirnya pesanku gagal ku kirimkan. Keesokan hari, aku terus mencobanya. Mencoba menanyakan kabarmu. Aku tak akan menyerah.

Pesan keduaku untukmu…
“Kamu baik-baik saja kan?”

Pesan ketiga…
“Kamu sedang dimana?”
Sampai pesan ke tiga yang aku kirimkan, tak ada satupun yang terkirim untukmu.

Pesan keempat…
“Cepat pulang”

Pesan kelima..
“Maksudku, cepat pulang dan kembali”

Dan sampai pesan kelima itupun masih belum terkirim untuknya.
Tiba tiba setelah itu, gerimis kecilpun menetes satu per satu dari mataku. Aku memaksakan diriku untuk mengirimkan pesan padamu meskipun pada akhirnya aku tahu pesanku tak akan terkirim ke ponselmu.

“Aku akan mengerti jika kamu memang tak menginginkanku”

Pesan itu terkirim. Aku menghapus air mata itu, ada sedikit harapan yang masih aku simpan hingga kamu membalas pesanku.

“Aku sudah bersamanya”

Hanya itu? Iya hanya itu balasan pesanmu? Kamu menghilang, lalu kamu tak memberiku kabar karna itu? Hanya karna kamu sudah bersamanya lalu kamu pergi tanpa berpamitan? Aku bercermin seolah-olah mencari sudut kecil kesalahanku hingga membuatmu pergi tanpa bicara apapun. Kamu sudah bersamanya, tapi bagaimana dengan aku? Kamu bisa menyembuhkanku tapi kamu yang membuatku kembali merasakan sakit yang tak ingin aku rasakan lagi. Kamu sudah bersamanya, tapi bagaimana dengan perasaanku? Bagaimana dengan hatiku? Apa katamu? Lupakan saja? Kamu terlalu menganggap aku abu-abu. Lalu kamu menyuruhku lupakan? Apa semudah mengedipkan matamu? Apa semudah memakan cabai langsung terasa pedas? Atau semudah membalikan telapak tanganmu?

Hai pemberi harapan palsu, masih ingat aku? Aku penikmatmu. 
Tolong ceritakan pada mereka bahwa kamu sudah berhasil membuat lukaku bertambah.

Kamis, 18 Juli 2013

Untuk Kamu Yang Terlalu Sibuk

Aku menulis ini ditempat yang paling ku sukai. Menulis beberapa kata atau kalimat yang belum sempat kamu baca, maksudku bukan belum sempat tapi kamu memang tak ada kesempatan tuk membaca tulisanku sedikitpun. 

Di tempat ini aku melakukan banyak hal, sebenarnya tempat ini tempat yang tak begitu besar, bukan tempat yang begitu mewah. Tapi disini, ditempat ini salah satu tempat yang banyak tahu tentang perasaan apa saja yang telah menggunung yang aku rasakan, ternyata kamarku lebih hebat dibanding kamu yang tak bisa merasakan apa yang aku rasakan tanpa aku mengucapkannya.

Untuk kamu yang terlalu sibuk, di tempat ini aku mondar-mandir menunggu kamu. Menunggumu yang sedang dimana dan sedang apa. Aku memang tak banyak tahu tentang keberadaanmu setiap hari atau setiap waktunya, aku memang tak banyak tahu tentang aktivitas apa yang kamu lakukan setiap hari atau setiap waktunya. Aku hanya tahu tentang “menunggu” kabarmu saja. Iya, hanya itu.

Untuk kamu yang terlalu sibuk, bahkan hanya di tempat ini aku habiskan waktuku. Aku hanya sesekali saja keluar tempat ini hanya untuk mengambil air putih yang sudah habis di gelasku sebelumnya. 

Untuk kamu yang terlalu sibuk, entah ada berapa halaman di Microsoft word yang aku gunakan hanya untuk menulis demi mengisi kekosongan untuk menunggumu. Mungkin menunggumu mengerjakan yang memang penting untukmu atau menunggumu pulang bersenang-senang dengan teman sekumpulanmu. Sering kali hati ini tertusuk rasa kekhawatiran yang begitu mendalam, tapi sayangnya ini hanya aku yang rasa. Sering kali begitu tapi aku tetap saja seperti anak kecil yang terus sabar menunggu diberikan coklat oleh ibunya.

Dan untuk kamu yang terlalu sibuk, di tempat ini aku juga sering menangisimu. Menangisimu karna kerinduanku yang sudah tak bisa ku tahan lagi.

Selasa, 16 Juli 2013

Dia



Dia hadir begitu saja. Disaat yang tepat, ketika aku harus mengkosongkan hati. Dia mengisi hati itu dengan cintanya, cinta yang begitu tulus seperti anak kecil yang tak pernah bisa membohongi orang disekelilingnya. Cinta yang langsung menyentuh ke dalam kalbu. Dia meluluhkan hatiku, dan bisa menuntunku untuk menuliskan namanya dalam satu ruang di hati yang sudah tak berpenghuni lagi.
Awalnya, aku kira dia hanya sosok penghibur dalam sepi dan dalam duka. Tapi nyatanya dia lebih dari itu. Dia sahabatku yang kembali dari masa lalu. Sahabat yang selalu menjadi pewarna dalam hidupku yang suram karna terkena cipratan luka yang bisa membuatku sakit karna siapapun,  sehingga sudah terlalu sering aku merasakan hal seperti ini.
Dia membawakan kasih sayang dalam bentuk yang baru. Kasih sayang seorang lelaki terhadap wanita yang begitu dicintainya. Bahkan hadirnya disampingku, mampu menopang semua keluh kesahku. Menopang segala gundah dan laraku. Sehingga dia mampu menghapus semua tangisku.
Aku mampu tersenyum dibuatnya. Selalu bahagia berada didekatnya, langkah yang tak pernah kusesali ketika aku membiarkannya menjadi bagian dari kehidupanku, duniaku, bahkan separuh dari diriku.
Lengkap rasanya hidupku sekarang. 
Mempunyai seorang kekasih sekaligus sahabat. Semoga kebahagiaan ini tidak bertahan untuk sementara. 


Khusus untuk,Kamu.