Minggu, 21 Juli 2013

Dear,Kamu: Pemberi Harapan Palsu

Perkenalan itu membuat kita semakin dekat. Entah kedekatan apa yang bisa ku jelasakan pada mereka. Aku bukan temanmu kan? Iya bukan. Tapi, jika aku bukan temanmu lalu peran aku disini sebagai siapa dan sebagai apa sayang? Kamu tak pernah mau memperjelas keadaan ini. Bukannya aku terlalu terburu-buru dengan keinginanku untuk memilikimu, tapi sampai kapan aku akan seperti gula yang hanya dijadikan pemanis ketika hidupmu sudah terlalu pahit untuk kamu rasakan sendiri? Aku tak akan berharap banyak jika kamu memang tak menginginkanku. Tapi, apa kabarnya dengan hatiku ini?

Ingat ketika aku terluka karnanya? Kamu hadir sebagai kunang-kunang yang mencoba menerangi jalanku meskipun cahaya yang kamu miliki tak seterang cahaya lilin. Kamu terus mencobanya demi menyemangatiku, mengobati setiap lukaku, dan menghapus goresan goresan kecil yang ada dihatiku sampai hatiku benar-benar sembuh dari rasa sakit itu. Bahkan banyak cara yang kamu lakukan demi membuatku sembuh. Awalnya aku kira kamu hanya salah satu dari ribuan orang disekelilingku yang hanya ingin membuatku bangkit saja, tapi perkiraan itu ternyata menjadikan perasaan ini mengalir dalam darahku. Kamu terus menyiraminya hingga perasaan ini berubah menjadi penyembuh segala lukaku.

Sehari… Dua hari… Tiga hari… Empat hari… Lima hari… Enam hari dan seminggu… kedekatan ini semakin dekat. Kamu yang tadinya begitu jauh dan tak terlalu ku kenal sekarang malah semakin mendekat. Seperti orang kelaparan yang begitu mendapat makanan dia langsung bersyukur, dan rasa syukur itu sangat aku rasakan ketika ada kamu. Kamu memberiku segala makanan yang benar-benar aku butuhkan, kasih sayang, perhatianmu dan masih banyak lagi sehingga aku yang kelaparan akan itu semua sekarang sudah terpenuhi karna diberikan semuanya olehmu.

Dan dua minggu setelah itu… aku selalu merasa kamu ada disini. Entah aku yang terlalu rindu kamu atau aku yang terlalu takut kehilangan kamu. Semuanya terasa bahwa yang aku inginkan selalu mementingkan keegoisanku, tapi kamu bilang ini bukan keegoisanku, semata-mata hanya perubahan perasaanku yang semakin hari semakin dalam. Iya, mungkin karna itu.

Lalu, beberapa minggu kemudian… sudah tak ada lagi kabarmu yang kamu kirim ke ponselku. Sudah tak ada lagi, benar-benar sudah tak ada lagi.
Jadi yang kemarin-kemarin itu apa maksudnya? Tunggu, bukan aku yang terlalu percaya diri kan? Kamu datang, kamu berikan yang aku butuhkan, kita bersama-sama, selalu bersama-sama tanpa ada jarak diantara kita lalu kamu memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan? Hanya itu? Kamu memutuskan untuk pergi tanpa satu atau beberapa kalimat? Kamu tak pernah tahu jika aku selalu menunggu kamu pulang. Pulang, iya pulang. Dimana kamu kembali padaku dan menganggap aku sebagai rumahmu. Tapi aku malah kehilanganmu.

Aku bodoh. Tak bisa mengertimu. Sekarang aku tak tahu harus mencarimu kemana. Benar-benar tak tahu. Aku kehilangan arah. Aku memutuskan mengirim pesan ke ponselmu. Hanya itu yang aku bisa, iya hanya itu dan tak tahu setelah itu apa yang akan kulakukan disini,tanpa kamu.

Pesan pertamaku untukmu…
“Hai, apa kabar?”
Hanya itu yang aku kirim. Aku menunggu, sampai akhirnya setelah aku tahu jika nomormu sudah tak kamu gunakan lagi. Pada akhirnya pesanku gagal ku kirimkan. Keesokan hari, aku terus mencobanya. Mencoba menanyakan kabarmu. Aku tak akan menyerah.

Pesan keduaku untukmu…
“Kamu baik-baik saja kan?”

Pesan ketiga…
“Kamu sedang dimana?”
Sampai pesan ke tiga yang aku kirimkan, tak ada satupun yang terkirim untukmu.

Pesan keempat…
“Cepat pulang”

Pesan kelima..
“Maksudku, cepat pulang dan kembali”

Dan sampai pesan kelima itupun masih belum terkirim untuknya.
Tiba tiba setelah itu, gerimis kecilpun menetes satu per satu dari mataku. Aku memaksakan diriku untuk mengirimkan pesan padamu meskipun pada akhirnya aku tahu pesanku tak akan terkirim ke ponselmu.

“Aku akan mengerti jika kamu memang tak menginginkanku”

Pesan itu terkirim. Aku menghapus air mata itu, ada sedikit harapan yang masih aku simpan hingga kamu membalas pesanku.

“Aku sudah bersamanya”

Hanya itu? Iya hanya itu balasan pesanmu? Kamu menghilang, lalu kamu tak memberiku kabar karna itu? Hanya karna kamu sudah bersamanya lalu kamu pergi tanpa berpamitan? Aku bercermin seolah-olah mencari sudut kecil kesalahanku hingga membuatmu pergi tanpa bicara apapun. Kamu sudah bersamanya, tapi bagaimana dengan aku? Kamu bisa menyembuhkanku tapi kamu yang membuatku kembali merasakan sakit yang tak ingin aku rasakan lagi. Kamu sudah bersamanya, tapi bagaimana dengan perasaanku? Bagaimana dengan hatiku? Apa katamu? Lupakan saja? Kamu terlalu menganggap aku abu-abu. Lalu kamu menyuruhku lupakan? Apa semudah mengedipkan matamu? Apa semudah memakan cabai langsung terasa pedas? Atau semudah membalikan telapak tanganmu?

Hai pemberi harapan palsu, masih ingat aku? Aku penikmatmu. 
Tolong ceritakan pada mereka bahwa kamu sudah berhasil membuat lukaku bertambah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar