Perkenalan itu
membuat kita semakin dekat. Entah kedekatan apa yang bisa ku jelasakan pada
mereka. Aku bukan temanmu kan? Iya bukan. Tapi, jika aku bukan temanmu lalu
peran aku disini sebagai siapa dan sebagai apa sayang? Kamu tak pernah mau
memperjelas keadaan ini. Bukannya aku terlalu terburu-buru dengan keinginanku
untuk memilikimu, tapi sampai kapan aku akan seperti gula yang hanya dijadikan
pemanis ketika hidupmu sudah terlalu pahit untuk kamu rasakan sendiri? Aku tak
akan berharap banyak jika kamu memang tak menginginkanku. Tapi, apa kabarnya
dengan hatiku ini?
Ingat ketika aku
terluka karnanya? Kamu hadir sebagai kunang-kunang yang mencoba menerangi
jalanku meskipun cahaya yang kamu miliki tak seterang cahaya lilin. Kamu terus
mencobanya demi menyemangatiku, mengobati setiap lukaku, dan menghapus goresan
goresan kecil yang ada dihatiku sampai hatiku benar-benar sembuh dari rasa
sakit itu. Bahkan banyak cara yang kamu lakukan demi membuatku sembuh. Awalnya
aku kira kamu hanya salah satu dari ribuan orang disekelilingku yang hanya
ingin membuatku bangkit saja, tapi perkiraan itu ternyata menjadikan perasaan
ini mengalir dalam darahku. Kamu terus menyiraminya hingga perasaan ini berubah
menjadi penyembuh segala lukaku.
Sehari… Dua hari…
Tiga hari… Empat hari… Lima hari… Enam hari dan seminggu… kedekatan ini semakin
dekat. Kamu yang tadinya begitu jauh dan tak terlalu ku kenal sekarang malah
semakin mendekat. Seperti orang kelaparan yang begitu mendapat makanan dia
langsung bersyukur, dan rasa syukur itu sangat aku rasakan ketika ada kamu.
Kamu memberiku segala makanan yang benar-benar aku butuhkan, kasih sayang,
perhatianmu dan masih banyak lagi sehingga aku yang kelaparan akan itu semua
sekarang sudah terpenuhi karna diberikan semuanya olehmu.
Dan dua minggu
setelah itu… aku selalu merasa kamu ada disini. Entah aku yang terlalu rindu
kamu atau aku yang terlalu takut kehilangan kamu. Semuanya terasa bahwa yang
aku inginkan selalu mementingkan keegoisanku, tapi kamu bilang ini bukan
keegoisanku, semata-mata hanya perubahan perasaanku yang semakin hari semakin
dalam. Iya, mungkin karna itu.
Lalu, beberapa
minggu kemudian… sudah tak ada lagi kabarmu yang kamu kirim ke ponselku. Sudah tak
ada lagi, benar-benar sudah tak ada lagi.
Jadi yang
kemarin-kemarin itu apa maksudnya? Tunggu, bukan aku yang terlalu percaya diri
kan? Kamu datang, kamu berikan yang aku butuhkan, kita bersama-sama, selalu
bersama-sama tanpa ada jarak diantara kita lalu kamu memutuskan untuk pergi
tanpa berpamitan? Hanya itu? Kamu memutuskan untuk pergi tanpa satu atau
beberapa kalimat? Kamu tak pernah tahu jika aku selalu menunggu kamu pulang.
Pulang, iya pulang. Dimana kamu kembali padaku dan menganggap aku sebagai
rumahmu. Tapi aku malah kehilanganmu.
Aku bodoh. Tak
bisa mengertimu. Sekarang aku tak tahu harus mencarimu kemana. Benar-benar tak
tahu. Aku kehilangan arah. Aku memutuskan mengirim pesan ke ponselmu. Hanya itu
yang aku bisa, iya hanya itu dan tak tahu setelah itu apa yang akan kulakukan
disini,tanpa kamu.
Pesan pertamaku
untukmu…
“Hai, apa kabar?”
Hanya itu yang aku
kirim. Aku menunggu, sampai akhirnya setelah aku tahu jika nomormu sudah tak
kamu gunakan lagi. Pada akhirnya pesanku gagal ku kirimkan. Keesokan hari, aku
terus mencobanya. Mencoba menanyakan kabarmu. Aku tak akan menyerah.
Pesan keduaku
untukmu…
“Kamu baik-baik
saja kan?”
Pesan ketiga…
“Kamu sedang
dimana?”
Sampai pesan ke
tiga yang aku kirimkan, tak ada satupun yang terkirim untukmu.
Pesan keempat…
“Cepat pulang”
Pesan kelima..
“Maksudku, cepat
pulang dan kembali”
Dan sampai pesan
kelima itupun masih belum terkirim untuknya.
Tiba tiba setelah
itu, gerimis kecilpun menetes satu per satu dari mataku. Aku memaksakan diriku
untuk mengirimkan pesan padamu meskipun pada akhirnya aku tahu pesanku tak akan
terkirim ke ponselmu.
“Aku akan mengerti
jika kamu memang tak menginginkanku”
Pesan itu
terkirim. Aku menghapus air mata itu, ada sedikit harapan yang masih aku simpan
hingga kamu membalas pesanku.
“Aku sudah
bersamanya”
Hanya itu? Iya
hanya itu balasan pesanmu? Kamu menghilang, lalu kamu tak memberiku kabar karna
itu? Hanya karna kamu sudah bersamanya lalu kamu pergi tanpa berpamitan? Aku
bercermin seolah-olah mencari sudut kecil kesalahanku hingga membuatmu pergi
tanpa bicara apapun. Kamu sudah bersamanya, tapi bagaimana dengan aku? Kamu
bisa menyembuhkanku tapi kamu yang membuatku kembali merasakan sakit yang tak
ingin aku rasakan lagi. Kamu sudah bersamanya, tapi bagaimana dengan
perasaanku? Bagaimana dengan hatiku? Apa katamu? Lupakan saja? Kamu terlalu
menganggap aku abu-abu. Lalu kamu menyuruhku lupakan? Apa semudah mengedipkan
matamu? Apa semudah memakan cabai langsung terasa pedas? Atau semudah
membalikan telapak tanganmu?
Hai pemberi harapan
palsu, masih ingat aku? Aku penikmatmu.
Tolong ceritakan pada mereka bahwa kamu
sudah berhasil membuat lukaku bertambah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar