Gadis ini mencengkram erat kepalanya. Di tengah hujan, dia
masih harus mengalami perdebatan sengit antara hati dan otaknya. Dinda, begitu
gadis ini disapa. Menangis di tengah hujan yang sangat deras memang efektif
karena tetesan air matapun takkan terlihat.
Dinda berjalan di koridor kelas dengan lesu. Bagaimana tidak,
pikirannya benar-benar sedang kacau. Apalagi kalau bukan karna cinta. Tepatnya
karna Denis, si pangeran berkuda putih itu. Sebenarnya Denis hanyalah pria
biasa, hanya saja cinta membuat Denis terlihat tak biasa di mata Dinda. Mungkin
Dinda melihat menggunakan mata hati. Mungkin.
Tak ada yang buruk mengenal Denis. Hanya saja Denis terlalu
untuk Dinda, iya terlalu baik, terlalu tampan dan terlalu pintar. Nyaris
sempurana. Dulu, Dinda tidak suka pada Denis, bahkan Dinda membencinya. Tapi
sekarang? Ia menyukainya. Atau bahkan mencintainya. Mungkin.
“Din, kamu baik-baik aja?” Suara itu. Suara itu sudah tak
asing lagi ditelinga Dinda. Dan benar saja ketika Dinda melihat siapa orang
itu. Ternyata Denis.
“Aku? Aku baik-baik saja”. Jawab Dinda. Sungguh dibalik kata
baik-baik saja ada kata tidak dalam keadaan baik yang tersembunyi. Perempuan.
Bukankah itu salah satu keahliannya untuk menutupi perasaan mereka yang
sebenarnya?
Seperti biasa, Dinda duduk di samping Gisha. Gisha dulunya
adalah gadis yang Denis sukai. Gisha itu perempuan yang cantik, pintar, dan
pandai bergaul, hampir tak ada celah dalam dirinya. Tapi itu dulu, sampai Denis
berkata kalau ia menyukai Dinda. Dinda mendengus geli ketika otaknya memutar
memori antara Dia, Gisha dan Denis.
Waktu itu, hujan sangat lebat. Dinda dan Gisha menunggu hujan
itu berhenti. Geisha sibuk mengamati hujan yang deras itu, tetapi Dinda justru
menikmatinya. Aroma hujan, Dinda selalu menyukai itu. Rintikan hujan mengalun
seperti sebuah musik di telinganya. Dinda menikmati itu sampai dia tahu bahwa
Denis memberikan jaketnya untuk Gisha. Dinda benar-benar cemburu hingga dia
lepas kendali.
“Din, maaf. Aku gak mau semua berakhir sampai disini”
Dinda sempat bingung dengan isi pesan singkat Denis.
Kata-katanya sedikit sulit untuk dicerna oleh otaknya. Bahkan butuh waktu yang
lama untuk memikirkan kata-kata Denis. Tetapi akhirnya akhrinya Dinda menjawab:
“Apa yang berakhir? Gak ada yang berakhir. Semuanya akan sama
seperti dulu. Maaf, tadi aku memang lagi emosi. Jangan berlebihan
menanggapinya. Nothing gonna change Denis, trust me”
Tiba-tiba Dinda tersadar dari lamunannya karena guru sudah
memasuki kelas. Lagi-lagi matanya kembali menangkap sosok Denis. Denis sibuk
dengan perempuan itu. Target baru mungkin. Dinda pura-pura tidak
memperdulikannya. Dinda harus fokus. Ini demi mimpi dan juga kebahagiaannya.
Jam tambahan pun berakhir. Semua anak-anak sibuk mengobrol
sana-sini. Membicarakan rencana mereka sepulang jam tambahan. Dinda sedang
fokus membereskan buku-bukunya. Memastikan bahwa tak ada satupun barang yang
tertinggal. Tapi tiba-tiba sosok itu mengusiknya, lagi.
“Tidak. Hanya ingin melihat kamu. Dinda yang fokus benar-benar
lain ya”
Dinda mengangkat sudut bibirnya ketika mendengar kata-kata
Denis.
“Eh? Dinda tersenyum?” Ucap Denis.
Setelah mendengarnya bicara itu, Dinda segera merubah raut
wajahnya. Dinda menyesali senyumannya tadi, Harusnya ia tidak memberikan
senyuman berharganya itu kepada Denis. Si pemberi harapan palsu,
“Dinda, ada yang mau aku bicarakan. Kita keluar sebentar ya”
Dinda segera keluar bersama Denis sebelum teman-temannya
melihat. Ketika Denis mengajak Dinda untuk mengobrol di tempat teduh, Dinda
menolaknya. Dinda beralasan kalau saat ini hanya hujan. Hujan air dan lagi pula
Dinda suka hujan.
“Mau bicara apa?” Tanya Dinda.
“Kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu menjauhiku. Kamu gak pernah
mengirimku pesan singkat. Bahkan seperti kamu membenciku. Aku salah apa sama
kamu?” jawab Denis yang kembali bertanya.
“Semuanya sudah berakhir”
“Berakhir? Maksudmu? Apa yang berakhir?”
“Kita”
Beberapa menit kemudian Dinda meralat kata-katanya.
“Maksudku bukan kita. Tapi aku dan kamu. Bukankah aku dan kamu tidak
akan pernah menjadi kita?”
“Kamu ini bicara apa Dinda. Siapa yang bilang kalau kamu dan
aku tidak akan pernah menjadi kita?”
“Takdir. Takdir memang tak pernah berkata tentang hal itu.
Tapi, takdir menunjukkannya”
“Takdir tak pernah menunjukkan itu Din” Jawab Denis tegas.
“Tak pernah? Bagaimana dengan kebudayaan kita? Bukannya itu
cukup menunjukkan kalau kita tidak bisa bersama? Kamu keras sedangkan aku
lembut. Kamu api sedangkan aku air. Kita berbeda, bahkan jika kita bersama maka
kita akan menghancurkan satu sama lain.”
Hujan semakin deras. Sebanyak air hujan itulah air mata Dinda
yang ditahannya. Mungkin untuk terakhir kalinya, Dinda ingin Denis mengingat
senyumnya, bukan tangisnya.
“Kenapa kamu menginginkan ini berahkir? Bukankah terlalu awal
untuk mengakhirinya?”
“kenapa kamu bertanya kepadaku? Kamu yang mengakhirinya, bukan
aku.”
“Aku? Aku tak pernah mengatakan ingin mengakhiri semuanya.”
“sekali lagi, mungkin lidahmu terlalu kelu untuk mengatakan
bahwa semua ini telah berakhir. Tetapi kamu berhasil menunjukkan. Kamu
menunjukkan tanda-tanda bahwa kamu ingin mengakhirinya.”
“Din… dulu aku kan pernah bilang kalau aku gak mau…. Ucapan
Denis terpotong karna Dinda segera menjawab
“Itu dulu. Sekarang? Tanda-tandanya udah jelas bahwa kamu
ingin mengakhirinya.”
Hening. Denis tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Tak pernah
terfikirkan oleh Denis kalau Dinda akan mengatakan hal-hal seperti ini. Denis
tak tau apa yang membuat Dinda berubah seperti ini.
“Lagi pula, kamu sekarang sudah punya pacar kan?” Kata Dinda
yang sepertinya ingin menyindir Denis.
“Pasti kamu bingung aku tau dari mana kalau kamu udah punya
pacar” Sambung Dinda sambil memaksakan senyum pada wajahnya.
“Pastinya. Kamu ini jangan-jangan penguntit aku ya” Denis
benar-benar tertawa lepas dengan jawaban tadi. Bahkan Dinda ikut terkekeh
dengan jawaban Denis.
Tiba-tiba Dinda berhenti tertawa. Dia memperhatikan Denis yang
masih tertawa lepas. Mungkin ini terakhir kalinya Dinda melihat Denis tertawa
karnanya dan bersamanya. Dinda menatap wajah Denis lekat-lekat. Ia mencoba
mengingat setiap lekuk wajah Denis. Jika Tuhan tak mengizinkannya untuk
memiliki Denis, maka biarkanlah Dinda memiliki kenangan tentang Denis. Tetapi
Dinda tak ingin mengingat kenangan ini setiap saat. Biarkanlah hujan menyimpan
kenangan antara Dinda dan Denis.
Tanpa sadar Dinda menitihkan setetes air matanya. Dia berbalik
membelakangi Denis. Pundaknya bergetar hebat. Tangisannya benar-benar tak bisa
ditahan lagi. Suara tangisnya pecah diantara lebatnya hujan. Denis segera
menghentikan tawanya. Dia menatap punggung itu. Punggung gadis yang dulu sempat
menjadi tempat pertama saat sedih maupun senang. Denis tahu betapa rapuhnya
gadis ini.
Dinda segera menghapus air matanya. Mengatur suaranya agak tak
bergetar saat berbicara dengan Denis nantinya. Dinda membalikan tubuhnya dan
tersenyum kaku saat melihat Denis. Denis membalas senyuman Dinda dengan tulus.
Dinda tak tahu bagaimama atas sesuatu yang telah berakhir. Yang terbesit di
benaknya adalah betapa bodohnya dia. Dinda juga tahu bahwa hujan akan
membawanya pada kenangan antara dia dan Denis, tetapi pada saat hujan berhenttu
kenangan itu sedikit akan menghilang.
Dinda beranjak dari duduknya. Begitu juga dengan Denis.
“Sepertinya aku harus pulang. Hujannya semakin deras. Dan kamu
juga harus pulang.” Kata Dinda.
“Aku harap setelah hukan ini akan ada pelangi. Pelangi yang
menghubungkan aku dengan pasanganku, dan kamu dengan pasanganmu.” Sambungnya.
Dinda pergi meninggalkan Denis lebih dulu. Dinda kini sadar
bahwa tak selamanya pangeran baik untuknya.
Dan hujan? Terimakasih untuk hujan
karena bersedia menjadi pengingat kenangan yang Dinda miliki.