"Malam itu kau mencium keningku. Selalu mengatakan bahwa kau
selalu mencintaiku. Tapi, tidak dengan pagi ini"
Aku seperti membawa beban yang begitu berat dipunggungku,
berat sekali. Mungkin ini adalah salah satu skenario yang Tuhan tulis untukku,
dan bahkan untukmu juga.
Ponselku selalu bordering kala pagi hari. Ini memang selalu
menjadi rutinitas yang selalu aku jalani, mengambil ponselku dan membuka pesan
masuk ketika aku terbangun. Aku selalu mendapat sambutan yang begitu manis
setiap pagi ketika mataku mulai terbuka.
Tapi entah apa yang benar-benar aku rasakan pada pagi ini. Aku
memang mendapat pesanmu ketika mataku terbuka, tapi mengapa tiba-tiba air mata
itu terasa begitu saja terjun bebas dan mengalir pada pipiku?
Itukah sambutan yang ku bilang begitu manis setiap paginya? Iya,
memang akan begitu manis, tapi untuk kemarin. Bukan untuk hari ini atau untuk
pagi selanjutnya.
Perpisahan bukan berarti perasaan ini hilang, bukan berarti aku
pergi darimu. Atau bahkan perpisahan ini berarti jika aku tak menginginkanmu
lagi, bukan itu.
Aku benci ini. Benci disaat waktu dan keadaan yang secara
tiba-tiba menarik kita untuk masuk kedalam zona perpisahan yang tak pernah jelas asalnya dari mana.
Aku mengerti karna kita pernah merasakan yang namanya pertemuan,
memang pada dasarnya kita harus siap untuk merasakan perpisahan. Karna aku tau
pertemuan dan perpisahan itu sudah menjadi satu paket. Tapi apa perpisahan itu
tak bisa semanis dan semudah pertemuan?
Dear you, listen to me. “I love you to the moon” - A