Ada seseorang terjebak di dalam kegelapan. Kegelapan itu
bukanlah sebuah ruang, melainkan sebuah masa. Sebuah masa dimana waktu itu tak
pernah berjalan. Awalnya dia percaya pada sebuah lilin yang berada
digenggamnya. Lilin itu mampu berinya penerangan dan kehangatan. Tapi dia lupa
bahwa lilin itu habis, habis termakan waktu, seperti keteguhan hatinya kini.
Dulu kala lilin itu meyakinkan bahwa dengan lilin yang digenggamnya itu mampu berinya penerangan dan kehangatan untuk tetap bertahan dalam gelap. Seperti hatinya yang selalu meyakini bahwa kekosongan hati itu jauh lebih baik dibandingkan di isi dengan sebuah rasa kasih dari hati yang lain.
Dia beranggapan bahwa mengkosongkan hatinya adalah jalan terbaik mencegah rasa sakit yang pasti akan sulit terobati. Tapi, dia tak pernah sadar, bahwa waktu akan meniupkan lilin itu sampai akhirnya mati, dan menjebaknya untuk selama-lamanya dalam kegelapan. Seperti rasa takut ini dalam hati yang selalu memaksa pintu itu tertutup, yang dia tau dia hanya akan menerima rasa sakit dari orang lain jika ia coba membuka pintu hatinya. Dia selalu menganggap itu adalah sebuah kenyataan jika dia mencoba untuk membuka hatinya. Dan dia tidak pernah tau bahwa sebenarnya itu hanya sugesti dari rasa takut karna dia selalu mempertahankan orang yang salah. Dia terlalu jauh mengunci sebuah nama yang salah dalam hatinya, meyakini bahwa perasaannya hanya milik orang itu, dan tak mau mencoba untuk bangkit mencari sosok yang benar sebagai penerang hidupnya.
Andaikan dia bisa bayangkan kegelapan itu hanya berbalutkan dinding kain berwarna hitam yang mengintarinya, dan dia punya sedikit keberanian untuk bangkit untuk merobeknya. aku yakin dia kan menemukan cahaya penerang yang tak hanya mau mencoba dan tak mengerti bahwa rasa sakit itu pasti ada dan dirasakan semua orang.
Dulu kala lilin itu meyakinkan bahwa dengan lilin yang digenggamnya itu mampu berinya penerangan dan kehangatan untuk tetap bertahan dalam gelap. Seperti hatinya yang selalu meyakini bahwa kekosongan hati itu jauh lebih baik dibandingkan di isi dengan sebuah rasa kasih dari hati yang lain.
Dia beranggapan bahwa mengkosongkan hatinya adalah jalan terbaik mencegah rasa sakit yang pasti akan sulit terobati. Tapi, dia tak pernah sadar, bahwa waktu akan meniupkan lilin itu sampai akhirnya mati, dan menjebaknya untuk selama-lamanya dalam kegelapan. Seperti rasa takut ini dalam hati yang selalu memaksa pintu itu tertutup, yang dia tau dia hanya akan menerima rasa sakit dari orang lain jika ia coba membuka pintu hatinya. Dia selalu menganggap itu adalah sebuah kenyataan jika dia mencoba untuk membuka hatinya. Dan dia tidak pernah tau bahwa sebenarnya itu hanya sugesti dari rasa takut karna dia selalu mempertahankan orang yang salah. Dia terlalu jauh mengunci sebuah nama yang salah dalam hatinya, meyakini bahwa perasaannya hanya milik orang itu, dan tak mau mencoba untuk bangkit mencari sosok yang benar sebagai penerang hidupnya.
Andaikan dia bisa bayangkan kegelapan itu hanya berbalutkan dinding kain berwarna hitam yang mengintarinya, dan dia punya sedikit keberanian untuk bangkit untuk merobeknya. aku yakin dia kan menemukan cahaya penerang yang tak hanya mau mencoba dan tak mengerti bahwa rasa sakit itu pasti ada dan dirasakan semua orang.