Kamis, 18 April 2013

Kegelapan, Ketakutan dan Rasa Sakit Yang Dia Punya


Ada seseorang terjebak di dalam kegelapan. Kegelapan itu bukanlah sebuah ruang, melainkan sebuah masa. Sebuah masa dimana waktu itu tak pernah berjalan. Awalnya dia percaya pada sebuah lilin yang berada digenggamnya. Lilin itu mampu berinya penerangan dan kehangatan. Tapi dia lupa bahwa lilin itu habis, habis termakan waktu, seperti keteguhan hatinya kini.
Dulu kala lilin itu meyakinkan bahwa dengan lilin yang digenggamnya itu mampu berinya penerangan dan kehangatan untuk tetap bertahan dalam gelap. Seperti hatinya yang selalu meyakini bahwa kekosongan hati itu jauh lebih baik dibandingkan di isi dengan sebuah rasa kasih dari hati yang lain.
Dia beranggapan bahwa mengkosongkan hatinya adalah jalan terbaik mencegah rasa sakit yang pasti akan sulit terobati. Tapi, dia tak pernah sadar, bahwa waktu akan meniupkan lilin itu sampai akhirnya mati, dan menjebaknya untuk selama-lamanya dalam kegelapan. Seperti rasa takut ini dalam hati yang selalu memaksa pintu itu tertutup, yang dia tau dia hanya akan menerima rasa sakit dari orang lain jika ia coba membuka pintu hatinya. Dia selalu menganggap itu adalah sebuah kenyataan jika dia mencoba untuk membuka hatinya. Dan dia tidak pernah tau bahwa sebenarnya itu hanya sugesti dari rasa takut karna dia selalu mempertahankan orang yang salah. Dia terlalu jauh mengunci sebuah nama yang salah dalam hatinya, meyakini bahwa perasaannya hanya milik orang itu, dan tak mau mencoba untuk bangkit mencari sosok yang benar sebagai penerang hidupnya.
Andaikan dia bisa bayangkan kegelapan itu hanya berbalutkan dinding kain berwarna hitam yang mengintarinya, dan dia punya sedikit keberanian untuk bangkit untuk merobeknya. aku yakin dia kan menemukan cahaya penerang yang tak hanya mau mencoba dan tak mengerti bahwa rasa sakit itu pasti ada dan dirasakan semua orang.

Minggu, 07 April 2013

Pertemuan itu........ (part II)

Dan dia datang kembali, tanpa sebuah kata atau pun pertanda lainnya. Ketika hubungan itu tak lagi membutuhkan penjelasan dia datang dengan sebongkah kejujuran yang memilukan.
Aku tak mau dengar suaranya! Apalagi melihat wajahnya!
Hal lain yang ingin ku lakukan adalah dapat lenyap dari hadapannya. Dia tak pernah tau bahwa hati ini menyimpan luka dalam dengan secercah rasa yang masih tersisa. Yang kamu tau, aku disini selalu berhasil mengobati lukaku sendiri, padahal aku tidak pernah berhasil sama sekali. Sial.
Bahkan aku tak mampu lagi menangis, hanya saja batin ini sering kali menjerit. Aku tak mampu lagi tertawa selepas dulu, hanya saja aku mampu menyimpulkan senyum diwajah senduku. Dan lagi lagi aku masih tak mampu. Tak mampu berkata apapun karna hanya terdiam aku masih mampu bertatap muka denganmu.

Begitu mudah kamu kembali dengan cara memelukku tanpa tau bagaimana usahaku mengobati luka ini, luka batin yang sejatinya membekas dan tak mampu terobati. "
"Mengapa? Mengapa kamu hadir ketika semua penjelasan ini sudah tak ada guna? Mengapa kamu kembali dengan rasa bersalah yang menjebakku?"
Aku tak mungkin lagi mengalahkan kaki kebelakang sedangkan tanganku telah menggenggam tangannya memasuki lembaran baru. Rasa bersalah yang dia tunjukkan seaka-akan berusaha meluluhkan hati yang telah membeku seperti es. Dia ceritakan segala alasan yang membuat sebongkah es itu yang mulai mencair. Entah apa yang aku rasa. Sebenarnya rasa itu hampir mati tak bernyawa. Tapi dia seperti Tuhan yang meniupkan nyawa pada hati ini dan mampu membuatnya hidup kembali bahkan membuka pintu yang telah tertutup rapat-rapat untuknya.

Tangan hangat yang dulu pernah menggenggam tanganku, kini kembali datang untuk meyakinkanku.
Pelukan erat yang pernah ku rindu kini kembali memberikan kepastian tentang hidup yang baru. Ingin ku mencoba kembali singgah di persinggahan yang pernah ku lalui, tapi tak mungkin ku tinggalkan orang yang memberikanku tujuan baru. Tak seharusnya aku biarkan rasa itu masih hidup. Hingga mampu dirayu tuk meneruskan cinta lalu.

Dan pertemuan itu.... cukup aku beri nama "Kecelakaan terindah"

Sabtu, 06 April 2013

Pertemuan itu........ (part I)

Malam itu, dia memintaku pergi menemani malamnya di kota Bandung.
Aku meluncur menggunakan sepeda motornya, lalu menjauh dari tengah keramaian dan kebisingan kota Bandung. Dia membawaku ke suatu tempat yang tak begitu asing bagiku. Hingar bingar dan keramaian kota Bandung semakin sukar terdengar.

Ketika melewati jalan yang cukup sepi, hanya ada suara beberapa motor yang berlalu lalang bersamaan dengan suara-suara hembusan angin yang menyapu daun telingaku.
 Mataku hanya meneliti ke seluruh jalan, menikmati penerangan malam dari "City Light" yang menghias.

Tapi kenapa tiba-tiba motor ini berhenti? Aku tersontak. Terkejut. Dan memilih turun dari motor itu. Aku berjalan kehadapannya "Kok berhenti? Jangan bilang motormu mogok? Ah sial" ujarku kesal dengan perasaan panik. Aku menggigit kecil jemariku, berusaha menghilangkan kepanikanku sendiri.
Tapi lihatlah, dia dengan santainya membuka helm lalu menstandarkan motornya disampingku. Kemudian turun sambil menarik tanganku dan berjalan ke arah pembatas jalan.
Aku yang terlihat kebingungan hanya mengikuti langkahnya di belakang. Dan seketika wajah kebingunganku lenyap di balik sebuah wajah yang terkagum kagum melihat sesuatu yang indah yang terpampang didepan mataku. Tanganku mulai terlepas dari genggamannya, aku berjalan mendekat pembatasan jalan. Bahkan aku menyender ke dinding kasar yang terasa dingin itu. Mataku menikmati pemandangan kilauan lampu berwarna-warni yang menghiasi kota Bandung.
     
 "Bagus ya?" Tiba tiba suara itu memecah sunyi. Menyadarkanku yang sedang menikmati malam itu.
 "Ini sih bukan bagus lagi, tapi ini indah banget" jawabku memuji tempat itu.
 "Coba deh kamu bedain gimana rasanya waktu kamu menutup mata kamu dan bayangin kalo kamu lagi ada ditempat yang gelap, sunyi. Sendirian dalam dingin dan gak ada satupun orang yang perduli kehadiran kamu. Dan tiba-tiba waktu kamu buka mata perlahan lahan kamu lihat ke sekeliling tempat ini. Aku yakin kamu ngerasain sesuatu yang beda. Menyelimuti kamu dari belakang dan ngasih sedikit kehangatan buat kamu"

Perkataan itu.... Yang keluar dari mulutkku itu seketika terputus ketika aku merasakan sesuatu yang melingkar dipinggangku, aku yang sedang mempraktekan ucapanku tadi mengambil nafas panjang lalu makin terasa merapat dipunggungku yang begitu menghangatkanku, sambil membuka mata ini dengan pelan-pelan aku merasakan hembusan nafas yang hangat disebelah wajahku menyapa lembut daun telingaku.
Dan kini  mulai bersandar sesuatu di bahuku. Aku tersentak kaget ketika mata ini terbuka dan melihatnya memeluk erat tubuhku.
         "Aku rindu kamu. Dan mungkin kamu gak percaya"  ucapnya.
Aku hanya bisa diam dalam pelukannya mendengarkan ucapan yang berburu dengan nafasnya.