Minggu, 07 April 2013

Pertemuan itu........ (part II)

Dan dia datang kembali, tanpa sebuah kata atau pun pertanda lainnya. Ketika hubungan itu tak lagi membutuhkan penjelasan dia datang dengan sebongkah kejujuran yang memilukan.
Aku tak mau dengar suaranya! Apalagi melihat wajahnya!
Hal lain yang ingin ku lakukan adalah dapat lenyap dari hadapannya. Dia tak pernah tau bahwa hati ini menyimpan luka dalam dengan secercah rasa yang masih tersisa. Yang kamu tau, aku disini selalu berhasil mengobati lukaku sendiri, padahal aku tidak pernah berhasil sama sekali. Sial.
Bahkan aku tak mampu lagi menangis, hanya saja batin ini sering kali menjerit. Aku tak mampu lagi tertawa selepas dulu, hanya saja aku mampu menyimpulkan senyum diwajah senduku. Dan lagi lagi aku masih tak mampu. Tak mampu berkata apapun karna hanya terdiam aku masih mampu bertatap muka denganmu.

Begitu mudah kamu kembali dengan cara memelukku tanpa tau bagaimana usahaku mengobati luka ini, luka batin yang sejatinya membekas dan tak mampu terobati. "
"Mengapa? Mengapa kamu hadir ketika semua penjelasan ini sudah tak ada guna? Mengapa kamu kembali dengan rasa bersalah yang menjebakku?"
Aku tak mungkin lagi mengalahkan kaki kebelakang sedangkan tanganku telah menggenggam tangannya memasuki lembaran baru. Rasa bersalah yang dia tunjukkan seaka-akan berusaha meluluhkan hati yang telah membeku seperti es. Dia ceritakan segala alasan yang membuat sebongkah es itu yang mulai mencair. Entah apa yang aku rasa. Sebenarnya rasa itu hampir mati tak bernyawa. Tapi dia seperti Tuhan yang meniupkan nyawa pada hati ini dan mampu membuatnya hidup kembali bahkan membuka pintu yang telah tertutup rapat-rapat untuknya.

Tangan hangat yang dulu pernah menggenggam tanganku, kini kembali datang untuk meyakinkanku.
Pelukan erat yang pernah ku rindu kini kembali memberikan kepastian tentang hidup yang baru. Ingin ku mencoba kembali singgah di persinggahan yang pernah ku lalui, tapi tak mungkin ku tinggalkan orang yang memberikanku tujuan baru. Tak seharusnya aku biarkan rasa itu masih hidup. Hingga mampu dirayu tuk meneruskan cinta lalu.

Dan pertemuan itu.... cukup aku beri nama "Kecelakaan terindah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar