Sabtu, 30 Maret 2013

Apa itu kau?



Sial. Perasaan apa lagi ini?
Malam ini benar-benar membawaku masuk ke bagian yang paling dalam dari sekenario yang Tuhan buat. Entah ini hanya aku yang rasa, entah hanya kau yang rasa atau bahkan sekenario Tuhan ini yang membuat "kita" sama-sama merasakan rasa yang dulu pernah berceceran hilang entah kemana.

Melihat banyaknya orang yang berlalu lalang kesana-kemari semakin membuatku pusing.
Kendaraan memenuhi sepanjang perjalananku malam ini.
Suara suara tak jelas pun ikut meramaikan suasana malam

Seketika mata ini tertuju pada sebuah warung kecil dipinggir jalan
Seseorang yang bercelana pendek, kaos berwarna coklat yang sangat muda, dan sepatu yang ia kenakan sangatlah terlihat cocok. Dengan rambut yang sedikit gondrong dan kumis tipis itu membuat ingatanku buyar.
Seakan mengingatkan sesuatu. Seakan akan aku telah menemukan yang selama ini aku cari.

Disetiap langkahku malam ini tak lepas hanya karna ingin dapat perhatian kecil darimu
Hai, Berapa lama kita tak bertatap muka? Entahlah...
Berapa lama kita tak saling menyapa? Entahlah aku harus jawab apa.
Dan berapa lama bibir ini bungkam tanpa mengeluarkan perbincangan yang benar-benar ku rindukan?
Terlalu terlihat konyol memang, sampai-sampai kekonyolan ini membuatku sedikit tertawa kecil.

Kau terus mengikuti setiap langkah kakiku
Ada perasaan takut. Dan perasaan rindu yang tetap saja aku paksakan untuk ku bawa pergi.
Tatapan itu.......... Ah sial! Lagi-lagi tatapan itu membuat pikiranku buyar.
Ini lucu. Apa itu benar-benar kau yang selama ini pergi?
apa itu benar-benar kau yang hilang berceceran entah kemana?
Dan apa itu benar-benar kau yang membuat rindu ini diam lebih lama disini?
Entahlah.

Siapapun kau seseorang yang bercelana pendek, kaos berwarna coklat yang sangat muda, memakai sepatu dengan rambut yang sedikit gondrong dan kumismu yang tipis itu harusnya kau tau.
Bahwa kau tak pernah bisa membuatku lupa.


Selasa, 26 Maret 2013

Aku Benci Mengakui Hal Ini

Malam, memang selalu menjadi waktu yang paling tak ku sukai.
Kau tau? Malam selalu mengingatkanku padamu. Pada hal-hal yang selalu saja menyangkut pautkan dirimu disetiap ingatanku.

Mengingat pertemuan yang lalu itu membuat bibir ini sedikit melengkungkan senyum
Sering kali aku tertawa kecil mengingat itu
Dan, dalam waktu yang bersamaan memory-memory itu selalu berputar-putar mengelilingi pikiranku
Termasuk sosokmu yang selalu beterbangan di angan-anganku, bahkan seakan-akan sosokmu itu adalah nyata.

Aku mulai menyenderkan punggungku pada tembok yang mulai terasa dingin
Dan hati mulai merasakan perasaan yang tak tau lagi harus ku sebut apa perasaan itu
Ketika itu pula mata ini mulai mengeluarkan gerimis kecil, bahkan jemaripun tak sanggup lagi tuk menghapus gerimis kecil yang kian berjatuhan.

Pikiran pun tak karuan, sering kali aku merasa bahwa rindu yang kusimpan untukmu ini sudah tak perlu lagi.
Alah, sudahlah.... Aku benci saat saat seperti ini. Bisikanmu seakan-akan terdengar di daun telingaku
Bahkan seringkali aku merasakan sakit ketika aku menahan rindu ini untukmu. Bagaimana tidak? Merindukanmu memang seperti kentut, yang setiap kali aku mencoba untuk menahannya aku akan merasa sakit. Jika aku keluarkan kentut itu? Aku harus siap-siap menahan malu meskipun terasa lega seperti mendapat oksigen.
Dan aku benci mengakui hal ini.

Hektaran Rindu Untukmu

Ini bukan pertama kalinya aku mengingatmu dalam diam.
Ini bukan pertama kalinya aku membayangkanmu disini dalam sepi.
Dan ini bukan pertama kalinya aku merindukanmu.
Disini, diantara kemeriahan dan keramaian yang orang-orang ciptakan
Aku lebih memilih sunyi yang menemaniku.
Dimana aku telah tanamkan hektaran rindu untukmu.

Ketika malam berjatuhan
Ketika bintang mulai bermunculan dilangit, bahkan ketika bulan mulai memunculkan bentuknya
Hingga terdampar sampai pagi aku masih saja menyimpan hektaran rindu.
Sementara itu, hanya dingin dan sunyi yang menjadi saksi.
Jiwa-jiwa yang begitu menggigil, terperosok ke curug jurang malam.

Begitu dalam,
Sedalam hatimu.....
Dan untuk yang kesekian kalinya aku merasa kau begitu jauh
Meski kita masih saling berteduh dibawah langit yang sama
Hati ini tetap merasa bahwa kau begitu jauh

Jika kau percaya angin adalah satu
Jika kau percaya samudera adalah biru
Akan ku nyanyikan rindu ini
Lewat angin,
Lewat laut,
Lewat sunyi
Dan denting malam