Senin, 11 November 2013

Pagi ini tanpa kamu



"Malam itu kau mencium keningku. Selalu mengatakan bahwa kau selalu mencintaiku. Tapi, tidak dengan pagi ini"

Aku seperti membawa beban yang begitu berat dipunggungku, berat sekali. Mungkin ini adalah salah satu skenario yang Tuhan tulis untukku, dan bahkan untukmu juga.

Ponselku selalu bordering kala pagi hari. Ini memang selalu menjadi rutinitas yang selalu aku jalani, mengambil ponselku dan membuka pesan masuk ketika aku terbangun. Aku selalu mendapat sambutan yang begitu manis setiap pagi ketika mataku mulai terbuka.
Tapi entah apa yang benar-benar aku rasakan pada pagi ini. Aku memang mendapat pesanmu ketika mataku terbuka, tapi mengapa tiba-tiba air mata itu terasa begitu saja terjun bebas dan mengalir pada pipiku?

Itukah sambutan yang ku bilang begitu manis setiap paginya? Iya, memang akan begitu manis, tapi untuk kemarin. Bukan untuk hari ini atau untuk pagi selanjutnya.
Perpisahan bukan berarti perasaan ini hilang, bukan berarti aku pergi darimu. Atau bahkan perpisahan ini berarti jika aku tak menginginkanmu lagi, bukan itu.
Aku benci ini. Benci disaat waktu dan keadaan yang secara tiba-tiba menarik kita untuk masuk kedalam zona perpisahan  yang tak pernah jelas asalnya dari mana.

Aku mengerti karna kita pernah merasakan yang namanya pertemuan, memang pada dasarnya kita harus siap untuk merasakan perpisahan. Karna aku tau pertemuan dan perpisahan itu sudah menjadi satu paket. Tapi apa perpisahan itu tak bisa semanis dan semudah pertemuan?
Dear you, listen to me. “I love you to the moon” - A

Sabtu, 27 Juli 2013

Bahagia Itu Kita Yang Rasa


“Aku menyukaimu. Apa kamu mau jadi pacarku?”


Bagai patung, Claudia membatu. Tepat dihadapannya, Andy bersimpuh sambil tersenyum manis. Setangkai bunga mawar ditangan menambah romantika suasana. Namun, gadis bernama Claudia ini masih saja terpaku dan terus membisu.

“Kenapa mesti aku?” Tanya Claudia setelah berhasil mendapatkan pita suaranya kembali setelah beberapa saat yang lalu telah menghilang entah kemana karena shock.
Kepala Andy menggeleng perlahan, dia masih dengan senyumannya yang tersungging di sudut bibirnya. Tanpa kata dan tanpa suara. Pria ini setia untuk menunggu jawaban atas tawaran resmi untuk hubungannya. Sejenak Claudia memejamkan mata. Selangkah demi selangkah kakinya segera melangkah mundur.

“Maaf” Cukup satu kata yang keluar dari bibirnya sebelum Claudia berbalik dan tidak menoleh lagi.

Tapi, tiba-tiba ada seorang temannya yang menggebrak mejanya dan menyadarkannya dari lamunan. Lalu Claudia mengangkat wajahnya kaget. Raut wajah yang penuh amarah nya terlihat jelas diwajah Octariani sahabatnya. Membuat Claudia menggerutkan kening kebingungan.

“Ada apa?” Tanya Claudia hati-hati.

“Ada apa? Ada apa kamu bilang? Harusnya aku yang nanya, kamu kenapa?”

“Memangnya aku kenapa?” Claudia balik bertanya. Masih tidak mengerti arah dan tujuan pembicaraan sahabatnya itu.

“Seisi sekolah kita heboh. Katanya kamu nolak Andy. Apa itu bener?”
Claudia terdiam sambil tersenyum samar. Sepertinya ia mulai mengerti kemana arah dan tujuan pembicaraan itu akan dibawa. Dengan perlahan kepalanya mengangguk membernarkan.

“Apa kamu udah gila?” Tanya Octariani lagi.

“Sejak kapan menolak seseorang itu disebut gila?” Bukannya menjawab, lagi lagi Claudia malah balik bertanya.

“Kalo kamu ditembak sama tukang becak ataupun tukang ojek terus kamu nolak ya wajar. Ini Andy loh Claudia. Andy idola di sekolah kita” Terang Octariani yang penuh penekanan.
Kali ini Claudia hanya angkat bahu membuat Octariani harus mati-matian menahan diri untuk tidak langsung menjitak kepala sahabatnya saat itu juga.

“Kasih tau alesannya kenapa kamu nolak dia?” Tambah Octariani dengan nada memaksa, membuat mulut Claudia sedikit maju. Jelas merasa tidak terima.

“Karna…. Karna…. Karna aku gak punya satu atau beberapa alesan kenapa aku harus nerima dia” Balas Claudia santai. Kali ini ia membalas tatapan tajam Octariani yang terhujam padanya.

“Gak ada satu pun alesan kamu bilang? Yaampun, dia itu cowok paling sempurna yang bisa dijadiin rujukan pacaran jaman masa kini. Tampang cakep? Jelas. Baik? Banget malah. Kaya? Semua orang juga udah tau. Dan kamu malah dengan seenak jidat bilang gak ada alesan buat nerima dia? Apa kamu belum pernah liat sandal melayang nyangkut di atas kepala ya?” Jawab Octa dengan penuh kekesalannya.

“Yaampun Octa, kamu marah-marahin aku Cuma gara-gara aku nolak tawaran Andy tadi pagi?” keluh Claudia pasang tampang dramatisir yang sudah gak mempan utuk meredakan kemarahan Octariani.

“itu…. Emmm…. Bukan…. Emmm…. Cuma…..” Jawab Octa.
Claudia tampak menghembuskan nafas secara perlahan. Merasa lelah dan percuma untuk melalukan perdebatannya dengan Octa. Terlebih berdebat dengan Octariani. The Master of Debater!

“Udah deh, gak usah dibahas. Aku mau pulang. Kamu mau bareng atau enggak?” Tanya Claudia mengalihkan pembicaraan. Diraihnya tas yang berada diatas meja lalu siap untuk pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Octariani.

“Hanya karena tidak ingin terluka bukan berarti kamu harus takut untuk merasa bahagia”
Walau berat untuk mengakui, Claudia mengerti kalau apa yang Octariani ucapkan ada benarnya. Tapi, rasa ego masih bersarang dihatinya. Tanpa berbalik ia kembali melangkah. Meninggalkan Octariani terpaku sendirian.
Sambil melangkah angan Claudia melayang sangat jauh. Sejauh mimpi yang ingin ia raih. Dengan perlahan ia melangkah kedalam bus yang akan membawanya pulang ke rumah. Matanya mengamati sekeliling. Entah memang takdir atau hanya kebetulan didunia ini selalu ada. Hampir semua bangku penuh kecuali bangku yang berada tepat di belakang sopir. Harusnya, ya harusnya Claudia sama sekali tidak keberatan untuk duduk disana kalau saja matanya tak lebih dahulu mengenali siapa sosok yang duduk disana dengan mata terpejam. Andy, seseorang yang ia tolak tadi pagi.
Sempat merasa ragu namun pada akhirnya Claudia melangkah kearah bangku itu, mendaratkan tubuhnya secara perlahan. Merasa kehadiran seseorang di sampingnya refleks Andy membuka matanya. Bola mata hitam nan tajam langsung terarah menuju Claudia yang hanya mampu tersenyum kaku. Mendadak merasa menyesal akan keputusannya. Harusnya tadi ia lebih memilih untuk berdiri saja dari pada berada dalam situasi seperti ini.
Sebuah senyum tulus yang tergambar diwajah Andy pada detik berikutnya langsung menghancurkan keraguan Claudia. Senyum itu, walau samar tapi terlihat tulus. Bahkan mampu menular pada dirinya. Terbukti saat tanpa di sadari bibirnya juga tertarik membentuk lengkungan.

“Baru mau pulang?” Tanya Andy membuka pembicaraan.

Kepala Claudia hanya bisa mengangguk. Mulutnya masih terkunci. Bingung mau berkata apa. Pada saat bersamaan, Andy ikut mengangguk. Sebuah formalitas semata sepertinya. Untuk sejenak suasana kembali sepi. Hening yang meresahkan, setidaknya itu yang Claudia rasakan. Kepalanya sedikit menoleh kearah Andy yang tampak kembali pada aktifitas sebelum kedatangannya. Memejamkan mata. Sementara bus juga sudah kembali berjalan.

“Maaf?”

“Eh?” Claudia menoleh. Menatap lurus ke aras Andy, sementara yang ditatap sama sekali tidak terpengaruh. Tetap asik dengan kebisuannya. Seolah kalimat yang baru saja ditangkap oleh indra pendengaran Claudia hanyalah halusinasi semata.

“Untuk yang tadi pagi, aku minta maaf”
Kali ini Claudia yakin kalau ia tidak salah dengar. Terlebih Andy membalas tatapannya. Masih dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya.

“Harusnya aku yang meminta maaf” Gumam Claudia lirih.

“Untuk?” Tanya Andy.

“Eh?” Claudia yang tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu spontan menjadi salah tingkah.

“Untuk penolakan yang kau lakukan tadi? Sepertinya tidak perlu terlalu difikirkan. Setiap orang punya prinsipnya masing-masing. Lagi pula tadi itu aku juga hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja. Soal kamu yang tidak menyukai ataupun memiliki rasa yang sama seperti aku sama sekali tidak aku pikirkan. Walau jujur saja aku berharap kamu memang punya rasa yang sama” Jawab Andy
Lagi-lagi Claudia membisu. Tak tau harus berkata apa.

“Kenapa?”

“Eh?” Gantian Andy yang menoleh bingung.

“Kenapa harus aku?” Tanya Claudia menegaskan maksud ucapannya.
Lama Andy membisu. Tidak langsung menjawab pertanyaannya.

“Karena Bahagia itu kita yang rasa. Dan aku ingin membag rasa bahagiaku bersama orang yang ku cintai. Dan orang itu adalah kamu”
Biar singkat tapi Claudia merasakan ketegasan dari setiap patah kata yang keluar dari mulut sosok disampingnya. Tanpa sadar sebuah senyum bertenger disudut bibirnya. Ditatap wajah Andy yang juga tersenyum. Hanya senyuman. Tanpa kata. Apalah arti kata bila hati sudah cukup untuk menjawabnya.

Minggu, 21 Juli 2013

Aku Ingin Memelukmu



Aku ingin memelukmu
Walau rengkuhan jarak itu tak pernah mengizinkan kita bertemu

Aku ingin memelukmu
Walau jemari kita belum saling menggenggam sampai detik ini

Aku ingin memelukmu
Walau kita belum saling tahu dan bertemu

Aku ingin memelukmu
Walau tinggi badanmu jauh diatasku

Aku ingin memelukmu
Saat kamu kelelahan menjalani riuhnya aktivitas
Saat kamu rapuh dan menangis
Saat kamu merasa bahwa dunia terlalu keras untuk kaujalani sendiri
Saat kamu mengira tak seorangpun yang peduli pada perasaanmu

Aku ingin memelukmu
Saat pertama kali aku membuka mata dari tidur lelapku
Saat hanya kamu yang kulihat dibangun pagi hariku

Aku ingin memelukmu
Di bawah hangatnya sinar mentari pagi
Di bawah teriknya surya yang meradang garang
Di bawah redupnya matahari kala senja
Di bawah sinar rembulan dengan hiasan bintangdi langitnya

Aku ingin memelukmu
Saat angin dengan nakalnya menggelitikmu dan meniup lembut rambutmu

Aku ingin memelukmu
Saat rindu mengganggu laju kerja otak dan hatimu

Aku ingin memelukmu
Saat langit sedang menenun benang-benang hujan
Lalu kita saling berpeluk dibawah deras rindunya
Hanya berpayung rambut basah dengan balutan senyum bahagia
Sungguh, aku mencintaimu

Dear,Kamu: Pemberi Harapan Palsu

Perkenalan itu membuat kita semakin dekat. Entah kedekatan apa yang bisa ku jelasakan pada mereka. Aku bukan temanmu kan? Iya bukan. Tapi, jika aku bukan temanmu lalu peran aku disini sebagai siapa dan sebagai apa sayang? Kamu tak pernah mau memperjelas keadaan ini. Bukannya aku terlalu terburu-buru dengan keinginanku untuk memilikimu, tapi sampai kapan aku akan seperti gula yang hanya dijadikan pemanis ketika hidupmu sudah terlalu pahit untuk kamu rasakan sendiri? Aku tak akan berharap banyak jika kamu memang tak menginginkanku. Tapi, apa kabarnya dengan hatiku ini?

Ingat ketika aku terluka karnanya? Kamu hadir sebagai kunang-kunang yang mencoba menerangi jalanku meskipun cahaya yang kamu miliki tak seterang cahaya lilin. Kamu terus mencobanya demi menyemangatiku, mengobati setiap lukaku, dan menghapus goresan goresan kecil yang ada dihatiku sampai hatiku benar-benar sembuh dari rasa sakit itu. Bahkan banyak cara yang kamu lakukan demi membuatku sembuh. Awalnya aku kira kamu hanya salah satu dari ribuan orang disekelilingku yang hanya ingin membuatku bangkit saja, tapi perkiraan itu ternyata menjadikan perasaan ini mengalir dalam darahku. Kamu terus menyiraminya hingga perasaan ini berubah menjadi penyembuh segala lukaku.

Sehari… Dua hari… Tiga hari… Empat hari… Lima hari… Enam hari dan seminggu… kedekatan ini semakin dekat. Kamu yang tadinya begitu jauh dan tak terlalu ku kenal sekarang malah semakin mendekat. Seperti orang kelaparan yang begitu mendapat makanan dia langsung bersyukur, dan rasa syukur itu sangat aku rasakan ketika ada kamu. Kamu memberiku segala makanan yang benar-benar aku butuhkan, kasih sayang, perhatianmu dan masih banyak lagi sehingga aku yang kelaparan akan itu semua sekarang sudah terpenuhi karna diberikan semuanya olehmu.

Dan dua minggu setelah itu… aku selalu merasa kamu ada disini. Entah aku yang terlalu rindu kamu atau aku yang terlalu takut kehilangan kamu. Semuanya terasa bahwa yang aku inginkan selalu mementingkan keegoisanku, tapi kamu bilang ini bukan keegoisanku, semata-mata hanya perubahan perasaanku yang semakin hari semakin dalam. Iya, mungkin karna itu.

Lalu, beberapa minggu kemudian… sudah tak ada lagi kabarmu yang kamu kirim ke ponselku. Sudah tak ada lagi, benar-benar sudah tak ada lagi.
Jadi yang kemarin-kemarin itu apa maksudnya? Tunggu, bukan aku yang terlalu percaya diri kan? Kamu datang, kamu berikan yang aku butuhkan, kita bersama-sama, selalu bersama-sama tanpa ada jarak diantara kita lalu kamu memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan? Hanya itu? Kamu memutuskan untuk pergi tanpa satu atau beberapa kalimat? Kamu tak pernah tahu jika aku selalu menunggu kamu pulang. Pulang, iya pulang. Dimana kamu kembali padaku dan menganggap aku sebagai rumahmu. Tapi aku malah kehilanganmu.

Aku bodoh. Tak bisa mengertimu. Sekarang aku tak tahu harus mencarimu kemana. Benar-benar tak tahu. Aku kehilangan arah. Aku memutuskan mengirim pesan ke ponselmu. Hanya itu yang aku bisa, iya hanya itu dan tak tahu setelah itu apa yang akan kulakukan disini,tanpa kamu.

Pesan pertamaku untukmu…
“Hai, apa kabar?”
Hanya itu yang aku kirim. Aku menunggu, sampai akhirnya setelah aku tahu jika nomormu sudah tak kamu gunakan lagi. Pada akhirnya pesanku gagal ku kirimkan. Keesokan hari, aku terus mencobanya. Mencoba menanyakan kabarmu. Aku tak akan menyerah.

Pesan keduaku untukmu…
“Kamu baik-baik saja kan?”

Pesan ketiga…
“Kamu sedang dimana?”
Sampai pesan ke tiga yang aku kirimkan, tak ada satupun yang terkirim untukmu.

Pesan keempat…
“Cepat pulang”

Pesan kelima..
“Maksudku, cepat pulang dan kembali”

Dan sampai pesan kelima itupun masih belum terkirim untuknya.
Tiba tiba setelah itu, gerimis kecilpun menetes satu per satu dari mataku. Aku memaksakan diriku untuk mengirimkan pesan padamu meskipun pada akhirnya aku tahu pesanku tak akan terkirim ke ponselmu.

“Aku akan mengerti jika kamu memang tak menginginkanku”

Pesan itu terkirim. Aku menghapus air mata itu, ada sedikit harapan yang masih aku simpan hingga kamu membalas pesanku.

“Aku sudah bersamanya”

Hanya itu? Iya hanya itu balasan pesanmu? Kamu menghilang, lalu kamu tak memberiku kabar karna itu? Hanya karna kamu sudah bersamanya lalu kamu pergi tanpa berpamitan? Aku bercermin seolah-olah mencari sudut kecil kesalahanku hingga membuatmu pergi tanpa bicara apapun. Kamu sudah bersamanya, tapi bagaimana dengan aku? Kamu bisa menyembuhkanku tapi kamu yang membuatku kembali merasakan sakit yang tak ingin aku rasakan lagi. Kamu sudah bersamanya, tapi bagaimana dengan perasaanku? Bagaimana dengan hatiku? Apa katamu? Lupakan saja? Kamu terlalu menganggap aku abu-abu. Lalu kamu menyuruhku lupakan? Apa semudah mengedipkan matamu? Apa semudah memakan cabai langsung terasa pedas? Atau semudah membalikan telapak tanganmu?

Hai pemberi harapan palsu, masih ingat aku? Aku penikmatmu. 
Tolong ceritakan pada mereka bahwa kamu sudah berhasil membuat lukaku bertambah.