“Aku menyukaimu.
Apa kamu mau jadi pacarku?”
Bagai patung,
Claudia membatu. Tepat dihadapannya, Andy bersimpuh sambil tersenyum manis.
Setangkai bunga mawar ditangan menambah romantika suasana. Namun, gadis bernama
Claudia ini masih saja terpaku dan terus membisu.
“Kenapa mesti aku?”
Tanya Claudia setelah berhasil mendapatkan pita suaranya kembali setelah
beberapa saat yang lalu telah menghilang entah kemana karena shock.
Kepala Andy
menggeleng perlahan, dia masih dengan senyumannya yang tersungging di sudut
bibirnya. Tanpa kata dan tanpa suara. Pria ini setia untuk menunggu jawaban
atas tawaran resmi untuk hubungannya. Sejenak Claudia memejamkan mata. Selangkah
demi selangkah kakinya segera melangkah mundur.
“Maaf” Cukup satu
kata yang keluar dari bibirnya sebelum Claudia berbalik dan tidak menoleh lagi.
Tapi, tiba-tiba
ada seorang temannya yang menggebrak mejanya dan menyadarkannya dari lamunan.
Lalu Claudia mengangkat wajahnya kaget. Raut wajah yang penuh amarah nya
terlihat jelas diwajah Octariani sahabatnya. Membuat Claudia menggerutkan
kening kebingungan.
“Ada apa?” Tanya
Claudia hati-hati.
“Ada apa? Ada apa
kamu bilang? Harusnya aku yang nanya, kamu kenapa?”
“Memangnya aku
kenapa?” Claudia balik bertanya. Masih tidak mengerti arah dan tujuan
pembicaraan sahabatnya itu.
“Seisi sekolah
kita heboh. Katanya kamu nolak Andy. Apa itu bener?”
Claudia terdiam
sambil tersenyum samar. Sepertinya ia mulai mengerti kemana arah dan tujuan
pembicaraan itu akan dibawa. Dengan perlahan kepalanya mengangguk membernarkan.
“Apa kamu udah
gila?” Tanya Octariani lagi.
“Sejak kapan
menolak seseorang itu disebut gila?” Bukannya menjawab, lagi lagi Claudia malah
balik bertanya.
“Kalo kamu
ditembak sama tukang becak ataupun tukang ojek terus kamu nolak ya wajar. Ini Andy
loh Claudia. Andy idola di sekolah kita” Terang Octariani yang penuh penekanan.
Kali ini Claudia
hanya angkat bahu membuat Octariani harus mati-matian menahan diri untuk tidak
langsung menjitak kepala sahabatnya saat itu juga.
“Kasih tau
alesannya kenapa kamu nolak dia?” Tambah Octariani dengan nada memaksa, membuat
mulut Claudia sedikit maju. Jelas merasa tidak terima.
“Karna…. Karna….
Karna aku gak punya satu atau beberapa alesan kenapa aku harus nerima dia”
Balas Claudia santai. Kali ini ia membalas tatapan tajam Octariani yang
terhujam padanya.
“Gak ada satu pun
alesan kamu bilang? Yaampun, dia itu cowok paling sempurna yang bisa dijadiin
rujukan pacaran jaman masa kini. Tampang cakep? Jelas. Baik? Banget malah. Kaya?
Semua orang juga udah tau. Dan kamu malah dengan seenak jidat bilang gak ada
alesan buat nerima dia? Apa kamu belum pernah liat sandal melayang nyangkut di
atas kepala ya?” Jawab Octa dengan penuh kekesalannya.
“Yaampun Octa,
kamu marah-marahin aku Cuma gara-gara aku nolak tawaran Andy tadi pagi?” keluh
Claudia pasang tampang dramatisir yang sudah gak mempan utuk meredakan
kemarahan Octariani.
“itu…. Emmm…. Bukan….
Emmm…. Cuma…..” Jawab Octa.
Claudia tampak
menghembuskan nafas secara perlahan. Merasa lelah dan percuma untuk melalukan
perdebatannya dengan Octa. Terlebih berdebat dengan Octariani. The Master of
Debater!
“Udah deh, gak
usah dibahas. Aku mau pulang. Kamu mau bareng atau enggak?” Tanya Claudia
mengalihkan pembicaraan. Diraihnya tas yang berada diatas meja lalu siap untuk
pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan yang terlontar dari
mulut Octariani.
“Hanya karena
tidak ingin terluka bukan berarti kamu harus takut untuk merasa bahagia”
Walau berat untuk
mengakui, Claudia mengerti kalau apa yang Octariani ucapkan ada benarnya. Tapi,
rasa ego masih bersarang dihatinya. Tanpa berbalik ia kembali melangkah. Meninggalkan
Octariani terpaku sendirian.
Sambil melangkah angan
Claudia melayang sangat jauh. Sejauh mimpi yang ingin ia raih. Dengan perlahan
ia melangkah kedalam bus yang akan membawanya pulang ke rumah. Matanya mengamati
sekeliling. Entah memang takdir atau hanya kebetulan didunia ini selalu ada. Hampir
semua bangku penuh kecuali bangku yang berada tepat di belakang sopir. Harusnya,
ya harusnya Claudia sama sekali tidak keberatan untuk duduk disana kalau saja
matanya tak lebih dahulu mengenali siapa sosok yang duduk disana dengan mata
terpejam. Andy, seseorang yang ia tolak tadi pagi.
Sempat merasa ragu
namun pada akhirnya Claudia melangkah kearah bangku itu, mendaratkan tubuhnya
secara perlahan. Merasa kehadiran seseorang di sampingnya refleks Andy membuka
matanya. Bola mata hitam nan tajam langsung terarah menuju Claudia yang hanya
mampu tersenyum kaku. Mendadak merasa menyesal akan keputusannya. Harusnya tadi
ia lebih memilih untuk berdiri saja dari pada berada dalam situasi seperti ini.
Sebuah senyum
tulus yang tergambar diwajah Andy pada detik berikutnya langsung menghancurkan keraguan
Claudia. Senyum itu, walau samar tapi terlihat tulus. Bahkan mampu menular pada
dirinya. Terbukti saat tanpa di sadari bibirnya juga tertarik membentuk
lengkungan.
“Baru mau pulang?”
Tanya Andy membuka pembicaraan.
Kepala Claudia
hanya bisa mengangguk. Mulutnya masih terkunci. Bingung mau berkata apa. Pada saat
bersamaan, Andy ikut mengangguk. Sebuah formalitas semata sepertinya. Untuk sejenak
suasana kembali sepi. Hening yang meresahkan, setidaknya itu yang Claudia
rasakan. Kepalanya sedikit menoleh kearah Andy yang tampak kembali pada
aktifitas sebelum kedatangannya. Memejamkan mata. Sementara bus juga sudah
kembali berjalan.
“Maaf?”
“Eh?” Claudia
menoleh. Menatap lurus ke aras Andy, sementara yang ditatap sama sekali tidak
terpengaruh. Tetap asik dengan kebisuannya. Seolah kalimat yang baru saja
ditangkap oleh indra pendengaran Claudia hanyalah halusinasi semata.
“Untuk yang tadi
pagi, aku minta maaf”
Kali ini Claudia
yakin kalau ia tidak salah dengar. Terlebih Andy membalas tatapannya. Masih dengan
senyum yang terus menghiasi bibirnya.
“Harusnya aku yang
meminta maaf” Gumam Claudia lirih.
“Untuk?” Tanya
Andy.
“Eh?” Claudia yang
tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu spontan menjadi salah
tingkah.
“Untuk penolakan
yang kau lakukan tadi? Sepertinya tidak perlu terlalu difikirkan. Setiap orang
punya prinsipnya masing-masing. Lagi pula tadi itu aku juga hanya ingin
mengungkapkan perasaanku saja. Soal kamu yang tidak menyukai ataupun memiliki
rasa yang sama seperti aku sama sekali tidak aku pikirkan. Walau jujur saja aku
berharap kamu memang punya rasa yang sama” Jawab Andy
Lagi-lagi Claudia
membisu. Tak tau harus berkata apa.
“Kenapa?”
“Eh?” Gantian Andy
yang menoleh bingung.
“Kenapa harus aku?”
Tanya Claudia menegaskan maksud ucapannya.
Lama Andy membisu.
Tidak langsung menjawab pertanyaannya.
“Karena Bahagia
itu kita yang rasa. Dan aku ingin membag rasa bahagiaku bersama orang yang ku
cintai. Dan orang itu adalah kamu”
Biar singkat tapi
Claudia merasakan ketegasan dari setiap patah kata yang keluar dari mulut sosok
disampingnya. Tanpa sadar sebuah senyum bertenger disudut bibirnya. Ditatap wajah
Andy yang juga tersenyum. Hanya senyuman. Tanpa kata. Apalah arti kata bila
hati sudah cukup untuk menjawabnya.