Sabtu, 27 Juli 2013

Bahagia Itu Kita Yang Rasa


“Aku menyukaimu. Apa kamu mau jadi pacarku?”


Bagai patung, Claudia membatu. Tepat dihadapannya, Andy bersimpuh sambil tersenyum manis. Setangkai bunga mawar ditangan menambah romantika suasana. Namun, gadis bernama Claudia ini masih saja terpaku dan terus membisu.

“Kenapa mesti aku?” Tanya Claudia setelah berhasil mendapatkan pita suaranya kembali setelah beberapa saat yang lalu telah menghilang entah kemana karena shock.
Kepala Andy menggeleng perlahan, dia masih dengan senyumannya yang tersungging di sudut bibirnya. Tanpa kata dan tanpa suara. Pria ini setia untuk menunggu jawaban atas tawaran resmi untuk hubungannya. Sejenak Claudia memejamkan mata. Selangkah demi selangkah kakinya segera melangkah mundur.

“Maaf” Cukup satu kata yang keluar dari bibirnya sebelum Claudia berbalik dan tidak menoleh lagi.

Tapi, tiba-tiba ada seorang temannya yang menggebrak mejanya dan menyadarkannya dari lamunan. Lalu Claudia mengangkat wajahnya kaget. Raut wajah yang penuh amarah nya terlihat jelas diwajah Octariani sahabatnya. Membuat Claudia menggerutkan kening kebingungan.

“Ada apa?” Tanya Claudia hati-hati.

“Ada apa? Ada apa kamu bilang? Harusnya aku yang nanya, kamu kenapa?”

“Memangnya aku kenapa?” Claudia balik bertanya. Masih tidak mengerti arah dan tujuan pembicaraan sahabatnya itu.

“Seisi sekolah kita heboh. Katanya kamu nolak Andy. Apa itu bener?”
Claudia terdiam sambil tersenyum samar. Sepertinya ia mulai mengerti kemana arah dan tujuan pembicaraan itu akan dibawa. Dengan perlahan kepalanya mengangguk membernarkan.

“Apa kamu udah gila?” Tanya Octariani lagi.

“Sejak kapan menolak seseorang itu disebut gila?” Bukannya menjawab, lagi lagi Claudia malah balik bertanya.

“Kalo kamu ditembak sama tukang becak ataupun tukang ojek terus kamu nolak ya wajar. Ini Andy loh Claudia. Andy idola di sekolah kita” Terang Octariani yang penuh penekanan.
Kali ini Claudia hanya angkat bahu membuat Octariani harus mati-matian menahan diri untuk tidak langsung menjitak kepala sahabatnya saat itu juga.

“Kasih tau alesannya kenapa kamu nolak dia?” Tambah Octariani dengan nada memaksa, membuat mulut Claudia sedikit maju. Jelas merasa tidak terima.

“Karna…. Karna…. Karna aku gak punya satu atau beberapa alesan kenapa aku harus nerima dia” Balas Claudia santai. Kali ini ia membalas tatapan tajam Octariani yang terhujam padanya.

“Gak ada satu pun alesan kamu bilang? Yaampun, dia itu cowok paling sempurna yang bisa dijadiin rujukan pacaran jaman masa kini. Tampang cakep? Jelas. Baik? Banget malah. Kaya? Semua orang juga udah tau. Dan kamu malah dengan seenak jidat bilang gak ada alesan buat nerima dia? Apa kamu belum pernah liat sandal melayang nyangkut di atas kepala ya?” Jawab Octa dengan penuh kekesalannya.

“Yaampun Octa, kamu marah-marahin aku Cuma gara-gara aku nolak tawaran Andy tadi pagi?” keluh Claudia pasang tampang dramatisir yang sudah gak mempan utuk meredakan kemarahan Octariani.

“itu…. Emmm…. Bukan…. Emmm…. Cuma…..” Jawab Octa.
Claudia tampak menghembuskan nafas secara perlahan. Merasa lelah dan percuma untuk melalukan perdebatannya dengan Octa. Terlebih berdebat dengan Octariani. The Master of Debater!

“Udah deh, gak usah dibahas. Aku mau pulang. Kamu mau bareng atau enggak?” Tanya Claudia mengalihkan pembicaraan. Diraihnya tas yang berada diatas meja lalu siap untuk pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Octariani.

“Hanya karena tidak ingin terluka bukan berarti kamu harus takut untuk merasa bahagia”
Walau berat untuk mengakui, Claudia mengerti kalau apa yang Octariani ucapkan ada benarnya. Tapi, rasa ego masih bersarang dihatinya. Tanpa berbalik ia kembali melangkah. Meninggalkan Octariani terpaku sendirian.
Sambil melangkah angan Claudia melayang sangat jauh. Sejauh mimpi yang ingin ia raih. Dengan perlahan ia melangkah kedalam bus yang akan membawanya pulang ke rumah. Matanya mengamati sekeliling. Entah memang takdir atau hanya kebetulan didunia ini selalu ada. Hampir semua bangku penuh kecuali bangku yang berada tepat di belakang sopir. Harusnya, ya harusnya Claudia sama sekali tidak keberatan untuk duduk disana kalau saja matanya tak lebih dahulu mengenali siapa sosok yang duduk disana dengan mata terpejam. Andy, seseorang yang ia tolak tadi pagi.
Sempat merasa ragu namun pada akhirnya Claudia melangkah kearah bangku itu, mendaratkan tubuhnya secara perlahan. Merasa kehadiran seseorang di sampingnya refleks Andy membuka matanya. Bola mata hitam nan tajam langsung terarah menuju Claudia yang hanya mampu tersenyum kaku. Mendadak merasa menyesal akan keputusannya. Harusnya tadi ia lebih memilih untuk berdiri saja dari pada berada dalam situasi seperti ini.
Sebuah senyum tulus yang tergambar diwajah Andy pada detik berikutnya langsung menghancurkan keraguan Claudia. Senyum itu, walau samar tapi terlihat tulus. Bahkan mampu menular pada dirinya. Terbukti saat tanpa di sadari bibirnya juga tertarik membentuk lengkungan.

“Baru mau pulang?” Tanya Andy membuka pembicaraan.

Kepala Claudia hanya bisa mengangguk. Mulutnya masih terkunci. Bingung mau berkata apa. Pada saat bersamaan, Andy ikut mengangguk. Sebuah formalitas semata sepertinya. Untuk sejenak suasana kembali sepi. Hening yang meresahkan, setidaknya itu yang Claudia rasakan. Kepalanya sedikit menoleh kearah Andy yang tampak kembali pada aktifitas sebelum kedatangannya. Memejamkan mata. Sementara bus juga sudah kembali berjalan.

“Maaf?”

“Eh?” Claudia menoleh. Menatap lurus ke aras Andy, sementara yang ditatap sama sekali tidak terpengaruh. Tetap asik dengan kebisuannya. Seolah kalimat yang baru saja ditangkap oleh indra pendengaran Claudia hanyalah halusinasi semata.

“Untuk yang tadi pagi, aku minta maaf”
Kali ini Claudia yakin kalau ia tidak salah dengar. Terlebih Andy membalas tatapannya. Masih dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya.

“Harusnya aku yang meminta maaf” Gumam Claudia lirih.

“Untuk?” Tanya Andy.

“Eh?” Claudia yang tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu spontan menjadi salah tingkah.

“Untuk penolakan yang kau lakukan tadi? Sepertinya tidak perlu terlalu difikirkan. Setiap orang punya prinsipnya masing-masing. Lagi pula tadi itu aku juga hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja. Soal kamu yang tidak menyukai ataupun memiliki rasa yang sama seperti aku sama sekali tidak aku pikirkan. Walau jujur saja aku berharap kamu memang punya rasa yang sama” Jawab Andy
Lagi-lagi Claudia membisu. Tak tau harus berkata apa.

“Kenapa?”

“Eh?” Gantian Andy yang menoleh bingung.

“Kenapa harus aku?” Tanya Claudia menegaskan maksud ucapannya.
Lama Andy membisu. Tidak langsung menjawab pertanyaannya.

“Karena Bahagia itu kita yang rasa. Dan aku ingin membag rasa bahagiaku bersama orang yang ku cintai. Dan orang itu adalah kamu”
Biar singkat tapi Claudia merasakan ketegasan dari setiap patah kata yang keluar dari mulut sosok disampingnya. Tanpa sadar sebuah senyum bertenger disudut bibirnya. Ditatap wajah Andy yang juga tersenyum. Hanya senyuman. Tanpa kata. Apalah arti kata bila hati sudah cukup untuk menjawabnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar