Selasa, 21 Mei 2013

Hujan Terakhir Bersamamu

Gadis ini mencengkram erat kepalanya. Di tengah hujan, dia masih harus mengalami perdebatan sengit antara hati dan otaknya. Dinda, begitu gadis ini disapa. Menangis di tengah hujan yang sangat deras memang efektif karena tetesan air matapun takkan terlihat.

Dinda berjalan di koridor kelas dengan lesu. Bagaimana tidak, pikirannya benar-benar sedang kacau. Apalagi kalau bukan karna cinta. Tepatnya karna Denis, si pangeran berkuda putih itu. Sebenarnya Denis hanyalah pria biasa, hanya saja cinta membuat Denis terlihat tak biasa di mata Dinda. Mungkin Dinda melihat menggunakan mata hati. Mungkin.

Tak ada yang buruk mengenal Denis. Hanya saja Denis terlalu untuk Dinda, iya terlalu baik, terlalu tampan dan terlalu pintar. Nyaris sempurana. Dulu, Dinda tidak suka pada Denis, bahkan Dinda membencinya. Tapi sekarang? Ia menyukainya. Atau bahkan mencintainya. Mungkin.


“Din, kamu baik-baik aja?” Suara itu. Suara itu sudah tak asing lagi ditelinga Dinda. Dan benar saja ketika Dinda melihat siapa orang itu. Ternyata Denis.


“Aku? Aku baik-baik saja”. Jawab Dinda. Sungguh dibalik kata baik-baik saja ada kata tidak dalam keadaan baik yang tersembunyi. Perempuan. Bukankah itu salah satu keahliannya untuk menutupi perasaan mereka yang sebenarnya?


Seperti biasa, Dinda duduk di samping Gisha. Gisha dulunya adalah gadis yang Denis sukai. Gisha itu perempuan yang cantik, pintar, dan pandai bergaul, hampir tak ada celah dalam dirinya. Tapi itu dulu, sampai Denis berkata kalau ia menyukai Dinda. Dinda mendengus geli ketika otaknya memutar memori antara Dia, Gisha dan Denis.

Waktu itu, hujan sangat lebat. Dinda dan Gisha menunggu hujan itu berhenti. Geisha sibuk mengamati hujan yang deras itu, tetapi Dinda justru menikmatinya. Aroma hujan, Dinda selalu menyukai itu. Rintikan hujan mengalun seperti sebuah musik di telinganya. Dinda menikmati itu sampai dia tahu bahwa Denis memberikan jaketnya untuk Gisha. Dinda benar-benar cemburu hingga dia lepas kendali.


“Din, maaf. Aku gak mau semua berakhir sampai disini”

Dinda sempat bingung dengan isi pesan singkat Denis. Kata-katanya sedikit sulit untuk dicerna oleh otaknya. Bahkan butuh waktu yang lama untuk memikirkan kata-kata Denis. Tetapi akhirnya akhrinya Dinda menjawab:


“Apa yang berakhir? Gak ada yang berakhir. Semuanya akan sama seperti dulu. Maaf, tadi aku memang lagi emosi. Jangan berlebihan menanggapinya. Nothing gonna change Denis, trust me”


Tiba-tiba Dinda tersadar dari lamunannya karena guru sudah memasuki kelas. Lagi-lagi matanya kembali menangkap sosok Denis. Denis sibuk dengan perempuan itu. Target baru mungkin. Dinda pura-pura tidak memperdulikannya. Dinda harus fokus. Ini demi mimpi dan juga kebahagiaannya.

Jam tambahan pun berakhir. Semua anak-anak sibuk mengobrol sana-sini. Membicarakan rencana mereka sepulang jam tambahan. Dinda sedang fokus membereskan buku-bukunya. Memastikan bahwa tak ada satupun barang yang tertinggal. Tapi tiba-tiba sosok itu mengusiknya, lagi.


“Tidak. Hanya ingin melihat kamu. Dinda yang fokus benar-benar lain ya”

Dinda mengangkat sudut bibirnya ketika mendengar kata-kata Denis.


“Eh? Dinda tersenyum?” Ucap Denis.

Setelah mendengarnya bicara itu, Dinda segera merubah raut wajahnya. Dinda menyesali senyumannya tadi, Harusnya ia tidak memberikan senyuman berharganya itu kepada Denis. Si pemberi harapan palsu,


“Dinda, ada yang mau aku bicarakan. Kita keluar sebentar ya”

Dinda segera keluar bersama Denis sebelum teman-temannya melihat. Ketika Denis mengajak Dinda untuk mengobrol di tempat teduh, Dinda menolaknya. Dinda beralasan kalau saat ini hanya hujan. Hujan air dan lagi pula Dinda suka hujan.


“Mau bicara apa?” Tanya Dinda.


“Kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu menjauhiku. Kamu gak pernah mengirimku pesan singkat. Bahkan seperti kamu membenciku. Aku salah apa sama kamu?” jawab Denis yang kembali bertanya.


“Semuanya sudah berakhir”


“Berakhir? Maksudmu? Apa yang berakhir?”


“Kita”

Beberapa menit kemudian Dinda meralat kata-katanya.


“Maksudku bukan kita. Tapi aku dan kamu. Bukankah aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita?”


“Kamu ini bicara apa Dinda. Siapa yang bilang kalau kamu dan aku tidak akan pernah menjadi kita?”


“Takdir. Takdir memang tak pernah berkata tentang hal itu. Tapi, takdir menunjukkannya”


“Takdir tak pernah menunjukkan itu Din” Jawab Denis tegas.


“Tak pernah? Bagaimana dengan kebudayaan kita? Bukannya itu cukup menunjukkan kalau kita tidak bisa bersama? Kamu keras sedangkan aku lembut. Kamu api sedangkan aku air. Kita berbeda, bahkan jika kita bersama maka kita akan menghancurkan satu sama lain.”

Hujan semakin deras. Sebanyak air hujan itulah air mata Dinda yang ditahannya. Mungkin untuk terakhir kalinya, Dinda ingin Denis mengingat senyumnya, bukan tangisnya.


“Kenapa kamu menginginkan ini berahkir? Bukankah terlalu awal untuk mengakhirinya?”


“kenapa kamu bertanya kepadaku? Kamu yang mengakhirinya, bukan aku.”


“Aku? Aku tak pernah mengatakan ingin mengakhiri semuanya.”

“sekali lagi, mungkin lidahmu terlalu kelu untuk mengatakan bahwa semua ini telah berakhir. Tetapi kamu berhasil menunjukkan. Kamu menunjukkan tanda-tanda bahwa kamu ingin mengakhirinya.”


“Din… dulu aku kan pernah bilang kalau aku gak mau…. Ucapan Denis terpotong karna Dinda segera menjawab


“Itu dulu. Sekarang? Tanda-tandanya udah jelas bahwa kamu ingin mengakhirinya.”

Hening. Denis tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Tak pernah terfikirkan oleh Denis kalau Dinda akan mengatakan hal-hal seperti ini. Denis tak tau apa yang membuat Dinda berubah seperti ini.


“Lagi pula, kamu sekarang sudah punya pacar kan?” Kata Dinda yang sepertinya ingin menyindir Denis.


“Pasti kamu bingung aku tau dari mana kalau kamu udah punya pacar” Sambung Dinda sambil memaksakan senyum pada wajahnya.


“Pastinya. Kamu ini jangan-jangan penguntit aku ya” Denis benar-benar tertawa lepas dengan jawaban tadi. Bahkan Dinda ikut terkekeh dengan jawaban Denis.

Tiba-tiba Dinda berhenti tertawa. Dia memperhatikan Denis yang masih tertawa lepas. Mungkin ini terakhir kalinya Dinda melihat Denis tertawa karnanya dan bersamanya. Dinda menatap wajah Denis lekat-lekat. Ia mencoba mengingat setiap lekuk wajah Denis. Jika Tuhan tak mengizinkannya untuk memiliki Denis, maka biarkanlah Dinda memiliki kenangan tentang Denis. Tetapi Dinda tak ingin mengingat kenangan ini setiap saat. Biarkanlah hujan menyimpan kenangan antara Dinda dan Denis.

Tanpa sadar Dinda menitihkan setetes air matanya. Dia berbalik membelakangi Denis. Pundaknya bergetar hebat. Tangisannya benar-benar tak bisa ditahan lagi. Suara tangisnya pecah diantara lebatnya hujan. Denis segera menghentikan tawanya. Dia menatap punggung itu. Punggung gadis yang dulu sempat menjadi tempat pertama saat sedih maupun senang. Denis tahu betapa rapuhnya gadis ini.

Dinda segera menghapus air matanya. Mengatur suaranya agak tak bergetar saat berbicara dengan Denis nantinya. Dinda membalikan tubuhnya dan tersenyum kaku saat melihat Denis. Denis membalas senyuman Dinda dengan tulus. Dinda tak tahu bagaimama atas sesuatu yang telah berakhir. Yang terbesit di benaknya adalah betapa bodohnya dia. Dinda juga tahu bahwa hujan akan membawanya pada kenangan antara dia dan Denis, tetapi pada saat hujan berhenttu kenangan itu sedikit akan menghilang.

Dinda beranjak dari duduknya. Begitu juga dengan Denis.


“Sepertinya aku harus pulang. Hujannya semakin deras. Dan kamu juga harus pulang.” Kata Dinda.


“Aku harap setelah hukan ini akan ada pelangi. Pelangi yang menghubungkan aku dengan pasanganku, dan kamu dengan pasanganmu.” Sambungnya.

Dinda pergi meninggalkan Denis lebih dulu. Dinda kini sadar bahwa tak selamanya pangeran baik untuknya. 

Dan hujan? Terimakasih untuk hujan karena bersedia menjadi pengingat kenangan yang Dinda miliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar