"Tuhan, jika cintaku padanya adalah cinta yang terlarang. Mengapa Kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku?"
Kamis, 27 Agustus 2015
Minggu, 23 Agustus 2015
:)
"Tuhan, bagian puisi yang telah ku buat sekian banyaknya adalah doa yang belum terselesaikan. Dapatkah Kau kabulkan jika ia adalah harapan dari setengah perjalananku?"
Wish you happiness
You must already know me, right?
I am a woman who often miss
I am a woman who secretly praying for salvation
I am a woman who is always waiting to go home
And I am is a woman who never ceased to always love you
I dropped my heart to you never knew before
And until recently, I was dropping my heart to you. Whenever a notice on my phone, and when I saw your name appears on my phone immediately heart beating too fast. Its so funny!
I remember when I was telling a lot of things about my activities, you can just look at me and smiled
It does not matter, for me it was more than enough to give me a response
I remember when I made a joke to you, you laugh without remaining load at all
I remember when I did silly things in front of you until you see me so strangely and then you laugh at me
So happy I am to see you like that
So happy I see you can laugh with me
Nothing makes me calm for the moment other than to see you happy because of me
I will always strive to be the best for you, until one day you will tell me
"I am proud of you"
I do not want to give sweet promises, I want to prove everything to make it look real
And in all things I always do my best, give you the perfect love even though I'm not perfect but I believe that we can make this a more perfect love
I hope you can continue to be happy with me
Sabtu, 22 Agustus 2015
Untitled (II)
Air mataku ternyata belum cukup dewasa untuk menahan agar tidak terjatuh
Jiwaku hening
Tak ada tangan yang memapah
Tak ada pundak untuk ku rangkul
Semenjak saat itu seringkali merasa sendiri
Sendiri yang menjadi sunyi
Tentangku, semuanya menjadi sepi
Hening selalu datang untuk melayat kesedihanku yang berhias gugur kamboja
Waktu terus berjalan
Namun, aku masih tertinggal disini
Dijaring rindu yang amat dingin
Bila rindu bagimu hanya sekedar sebaris ucap, lupakan saja rindunya.
Rabu, 19 Agustus 2015
Rindu itu apa?
“rindu itu apa?” tanyaku pada seorang yang terabaikan. ia bergeming, lalu duduk mendekap lutut. rindu, segetir itukah?
“rindu itu apa?” tanyaku pada seorang yang kesepian. ia diam, lantas menyudut di tepi dinding kusam. rindu, sedingin itukah?
“rindu itu apa?” tanyaku pada seorang yang ditinggalkan. ia membuang muka, lantas beringsut menjauh. rindu, seperih itukah?
“rindu itu apa?” tanyaku pada seorang yang patah hati. ia tercekat, lalu embun mulai jatuh dari kelopak matanya. rindu, sepedih itukah?
“rindu itu apa?” tanyaku pada seorang yang sedang mencintai diam-diam. ia bersimpuh, lalu bergumam memanjatkan doa-doa. rindu, sehening itukah?
“rindu itu apa?” tanyaku pada seorang yang terluka. ia berpaling, sesak, dan berpetir air mata. rindu, sesakit itukah?
pada akhirnya, aku tetap tak tahu rindu itu apa. sampai suatu ketika kau datang bersama riang. lantas pergi menyisakan kehilangan.
Senin, 17 Agustus 2015
Selimut dan aksesorisnya
Aku hanya sedang mencoba bagaimana menjadi dewasa terhadap perasaan yang aku rasakan
Dan sebisa mungkin untuk mengontrolnya
Mengolahnya agar tidak meluap
Aku takut nantinya akan membanjiri pipiku, apalagi menjebolkan emosiku
Apa kamu pernah merasakan bagaimana rasanya mendapatkan butir-butir pahit di setiap harinya?
Di setiap pergantian hari, kamu akan menghadapkan setetes saja rasa manis yang belum kamu dapat
Aku (tidak) baik-baik saja
Sesekali coba tatap kedua mataku sebentar
Disana, kamu bisa melihat beberapa banyak sedih yang telah ku simpan
Senyum adalah selimut yang setia setiap saat ku pakai tiap harinya
Dan diam adalah aksesorisnya
Coba untuk sekali saja jangan percaya jika aku sedang senyum
Coba untuk sekali saja jangan percaya jika aku sedang tertawa
Selami hatiku
Hatiku butuh kamu
Aku antar rindu, terserah mau kamu apakan.
Aku sudah mulai untuk membiasakan hal-hal yang sebelumnya sama sekali tidak biasa untukku
Tentang melawan rindu
Aku sadar, bahwa rinduku ini adalah teman
Dan akupun sadar betul, bahwa rinduku ini adalah lawan
Memejam
Aku benci memejam
Semakin aku memejam semua tentangmu, tidaklah mudah semudah memadamkan api dengan air
Tidur cepat adalah satu-satunya caraku
Agar tidak ada sela waktu untuk memikirkan kamu
Tapi mimpiku menghidupkanmu. Lalu, membangunkanku
Aku merindukan mawar sekaligus durinya
Aku merindukan hujan sekaligus petirnya
Aku merindukan kamu baik buruknya
Sudah biasa aku menahan
Kini tinggal aku untuk melawan
Aku hanya sebagian kecil dari rindu yang begitu besar
Sudah ku bagikan lewat tulisan, tapi rindu ini tak pernah habis
Aku tidak memerlukan perlengkapan apapun untuk melawan
Aku hanya perlu melatih hatiku. Itu saja
Malam ini
Meskipun kita tidak saling menatap
Aku antar rindu, terserah mau kamu apakan
Untitled (I)
Di hadapan malam ini
Yang penuh dengan pratanda dan bintang dilangit
Dan untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar kehilangan...
Kamu.
Aku yang kini merasa paling sendiri
Paling sepi
Paling sunyi
Dan berdiri ditempat paling nyeri
Seperti pemain drama yang linglung di panggung
Lupa nama
Lupa peran
Lupa adegan
Lupa skenario
Lupa kembali menjadi diri sendiri
Apa mungkin aku telah kehilangan arah?
Rasanya bukan mungkin, tapi memang
Aku hilang arah yang harus terus melangkah
Ingin berlari sampai pagi
Ingin mengejar binar matahari
Tapi nyatanya aku masih terdiam disini
Aku bisu
Terpaku dalam lembaran mimpi
Aku tersentak
Ketika denting waktu memanggilku
Dan aku terbangun
Aku mencari sesuatu
Hanya ada boneka
Ketika itu kusadari, ada sesuatu yang hilang
Ku mencoba bertanya padanya
"Ketika cinta kehilangan makna, apa mungkin kasih setia itu masih ada?"
Answer and ask ur heart the most in
Kamis, 20 Februari 2014
Berkhayal, Bermimpi dan Berharap.
Aku tak pernah
meminta hal yang terlalu berlebihan pada Tuhan.
Lalu, apa menginginkan cinta itu hal yang berlebihan? Apa menginginkan kebahagiaan berpihak padaku itu hal yang berlebihan? Atau, apa menginginkan kamu itu adalah hal yang paling berlebihan?
Katakan padaku jika permintaanku itu benar-benar belebihan. Untuk siapapun yang membaca tulisanku ini, aku hanya pastikan bahwa aku sedang dan selalu berkhayal. Berkhayal yang tak sepantasnya aku khayalkan dalam pikiranku, yaitu kamu. Kamu mungkin bertanya-tanya berapa lama aku berkhayal tentangmu, atau kamu bertanya-tanya mengapa aku bisa berkhayal terus menerus seperti itu? Jika kamu tanyakan itu, aku tak akan menjawab dan sebenarnya memang karna aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Indah memang, ketika aku duduk disampingmu, atau aku tiba tiba jatuh dan kamu menolongku atau bisa saja ketika kamu mencium keningku, ah.... kalian sepertinya tau itu hanya cukup menjadi khayalanku saja.
Tidur adalah salah satu pengantarku untuk berjalan kesuatu tempat dimana aku bisa merubah jalan hidup semauku, bergandeng tangan dengannya adalah hal yang paling aku tunggu-tunggu ketika aku tidur. Atau........ berpelukan dengannya juga menjadi salah satu hal yang paling aku inginkan. Sesuatu yang membuatku bisa tersenyum tanpa paksaan, sesuatu yang bisa membuatku berlari tanpa harus menangis, sesuatu yang bisa membuatku hidup dari kehidupan yang nyata. Entah ini namanya apa, rasanya aku tak ingin terbangun jika saja aku sedang bermimpi mengarungi semua perjalananku denganmu.
Ketika suatu saat aku harus terbangun dari tidur dengan keadaan bermimpi indah denganmu, terpaksa aku harus tertap berjalan meskipun harapan itu masih ada dalam hati dan pikiranku. Memang tak ada salahnya jika seseorang berharap pada tujuannya, tapi jika harapan itu memang sudah tidak ada lagi aku rasa aku juga harus pergi dari harapan yang membuatku merasa gantung diri. Lebih tepatnya kamu yang membuatku merasa gantung diri seperti ini. Tak heran jika banyak orang yang mudah putus asa ketika harapannya tak kunjung datang dengan seiring berjalannya waktu.
Berkhayal bersamamu itu adalah kegemaranku untuk menghabiskan waktu tanpa kamu.
Bermimpi bertemu denganmu itu adalah rindu yang selalu aku rasakan ketika aku dan kamu sudah tak bisa untuk menyatukan genggaman ini.
Dan berharap untuk denganmu lagi itu adalah caraku menunggumu dengan segala harapan yang ada bahkan aku tak tau lagi otakku itu seperti apa macamnya, entah bodoh atau tolol yang hanya bisa berharap disini tanpa kamu mengetahuinya.
Meskipun aku tau semua itu hanya menyiksa dan perlahan-lahan membuatku sakit.
Lalu, apa menginginkan cinta itu hal yang berlebihan? Apa menginginkan kebahagiaan berpihak padaku itu hal yang berlebihan? Atau, apa menginginkan kamu itu adalah hal yang paling berlebihan?
Katakan padaku jika permintaanku itu benar-benar belebihan. Untuk siapapun yang membaca tulisanku ini, aku hanya pastikan bahwa aku sedang dan selalu berkhayal. Berkhayal yang tak sepantasnya aku khayalkan dalam pikiranku, yaitu kamu. Kamu mungkin bertanya-tanya berapa lama aku berkhayal tentangmu, atau kamu bertanya-tanya mengapa aku bisa berkhayal terus menerus seperti itu? Jika kamu tanyakan itu, aku tak akan menjawab dan sebenarnya memang karna aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Indah memang, ketika aku duduk disampingmu, atau aku tiba tiba jatuh dan kamu menolongku atau bisa saja ketika kamu mencium keningku, ah.... kalian sepertinya tau itu hanya cukup menjadi khayalanku saja.
Tidur adalah salah satu pengantarku untuk berjalan kesuatu tempat dimana aku bisa merubah jalan hidup semauku, bergandeng tangan dengannya adalah hal yang paling aku tunggu-tunggu ketika aku tidur. Atau........ berpelukan dengannya juga menjadi salah satu hal yang paling aku inginkan. Sesuatu yang membuatku bisa tersenyum tanpa paksaan, sesuatu yang bisa membuatku berlari tanpa harus menangis, sesuatu yang bisa membuatku hidup dari kehidupan yang nyata. Entah ini namanya apa, rasanya aku tak ingin terbangun jika saja aku sedang bermimpi mengarungi semua perjalananku denganmu.
Ketika suatu saat aku harus terbangun dari tidur dengan keadaan bermimpi indah denganmu, terpaksa aku harus tertap berjalan meskipun harapan itu masih ada dalam hati dan pikiranku. Memang tak ada salahnya jika seseorang berharap pada tujuannya, tapi jika harapan itu memang sudah tidak ada lagi aku rasa aku juga harus pergi dari harapan yang membuatku merasa gantung diri. Lebih tepatnya kamu yang membuatku merasa gantung diri seperti ini. Tak heran jika banyak orang yang mudah putus asa ketika harapannya tak kunjung datang dengan seiring berjalannya waktu.
Berkhayal bersamamu itu adalah kegemaranku untuk menghabiskan waktu tanpa kamu.
Bermimpi bertemu denganmu itu adalah rindu yang selalu aku rasakan ketika aku dan kamu sudah tak bisa untuk menyatukan genggaman ini.
Dan berharap untuk denganmu lagi itu adalah caraku menunggumu dengan segala harapan yang ada bahkan aku tak tau lagi otakku itu seperti apa macamnya, entah bodoh atau tolol yang hanya bisa berharap disini tanpa kamu mengetahuinya.
Meskipun aku tau semua itu hanya menyiksa dan perlahan-lahan membuatku sakit.
Senin, 11 November 2013
Pagi ini tanpa kamu
"Malam itu kau mencium keningku. Selalu mengatakan bahwa kau
selalu mencintaiku. Tapi, tidak dengan pagi ini"
Aku seperti membawa beban yang begitu berat dipunggungku,
berat sekali. Mungkin ini adalah salah satu skenario yang Tuhan tulis untukku,
dan bahkan untukmu juga.
Ponselku selalu bordering kala pagi hari. Ini memang selalu
menjadi rutinitas yang selalu aku jalani, mengambil ponselku dan membuka pesan
masuk ketika aku terbangun. Aku selalu mendapat sambutan yang begitu manis
setiap pagi ketika mataku mulai terbuka.
Tapi entah apa yang benar-benar aku rasakan pada pagi ini. Aku
memang mendapat pesanmu ketika mataku terbuka, tapi mengapa tiba-tiba air mata
itu terasa begitu saja terjun bebas dan mengalir pada pipiku?
Itukah sambutan yang ku bilang begitu manis setiap paginya? Iya,
memang akan begitu manis, tapi untuk kemarin. Bukan untuk hari ini atau untuk
pagi selanjutnya.
Perpisahan bukan berarti perasaan ini hilang, bukan berarti aku
pergi darimu. Atau bahkan perpisahan ini berarti jika aku tak menginginkanmu
lagi, bukan itu.
Aku benci ini. Benci disaat waktu dan keadaan yang secara
tiba-tiba menarik kita untuk masuk kedalam zona perpisahan yang tak pernah jelas asalnya dari mana.
Aku mengerti karna kita pernah merasakan yang namanya pertemuan,
memang pada dasarnya kita harus siap untuk merasakan perpisahan. Karna aku tau
pertemuan dan perpisahan itu sudah menjadi satu paket. Tapi apa perpisahan itu
tak bisa semanis dan semudah pertemuan?
Dear you, listen to me. “I love you to the moon” - A
Sabtu, 27 Juli 2013
Bahagia Itu Kita Yang Rasa
“Aku menyukaimu.
Apa kamu mau jadi pacarku?”
Bagai patung,
Claudia membatu. Tepat dihadapannya, Andy bersimpuh sambil tersenyum manis.
Setangkai bunga mawar ditangan menambah romantika suasana. Namun, gadis bernama
Claudia ini masih saja terpaku dan terus membisu.
“Kenapa mesti aku?”
Tanya Claudia setelah berhasil mendapatkan pita suaranya kembali setelah
beberapa saat yang lalu telah menghilang entah kemana karena shock.
Kepala Andy
menggeleng perlahan, dia masih dengan senyumannya yang tersungging di sudut
bibirnya. Tanpa kata dan tanpa suara. Pria ini setia untuk menunggu jawaban
atas tawaran resmi untuk hubungannya. Sejenak Claudia memejamkan mata. Selangkah
demi selangkah kakinya segera melangkah mundur.
“Maaf” Cukup satu
kata yang keluar dari bibirnya sebelum Claudia berbalik dan tidak menoleh lagi.
Tapi, tiba-tiba
ada seorang temannya yang menggebrak mejanya dan menyadarkannya dari lamunan.
Lalu Claudia mengangkat wajahnya kaget. Raut wajah yang penuh amarah nya
terlihat jelas diwajah Octariani sahabatnya. Membuat Claudia menggerutkan
kening kebingungan.
“Ada apa?” Tanya
Claudia hati-hati.
“Ada apa? Ada apa
kamu bilang? Harusnya aku yang nanya, kamu kenapa?”
“Memangnya aku
kenapa?” Claudia balik bertanya. Masih tidak mengerti arah dan tujuan
pembicaraan sahabatnya itu.
“Seisi sekolah
kita heboh. Katanya kamu nolak Andy. Apa itu bener?”
Claudia terdiam
sambil tersenyum samar. Sepertinya ia mulai mengerti kemana arah dan tujuan
pembicaraan itu akan dibawa. Dengan perlahan kepalanya mengangguk membernarkan.
“Apa kamu udah
gila?” Tanya Octariani lagi.
“Sejak kapan
menolak seseorang itu disebut gila?” Bukannya menjawab, lagi lagi Claudia malah
balik bertanya.
“Kalo kamu
ditembak sama tukang becak ataupun tukang ojek terus kamu nolak ya wajar. Ini Andy
loh Claudia. Andy idola di sekolah kita” Terang Octariani yang penuh penekanan.
Kali ini Claudia
hanya angkat bahu membuat Octariani harus mati-matian menahan diri untuk tidak
langsung menjitak kepala sahabatnya saat itu juga.
“Kasih tau
alesannya kenapa kamu nolak dia?” Tambah Octariani dengan nada memaksa, membuat
mulut Claudia sedikit maju. Jelas merasa tidak terima.
“Karna…. Karna….
Karna aku gak punya satu atau beberapa alesan kenapa aku harus nerima dia”
Balas Claudia santai. Kali ini ia membalas tatapan tajam Octariani yang
terhujam padanya.
“Gak ada satu pun
alesan kamu bilang? Yaampun, dia itu cowok paling sempurna yang bisa dijadiin
rujukan pacaran jaman masa kini. Tampang cakep? Jelas. Baik? Banget malah. Kaya?
Semua orang juga udah tau. Dan kamu malah dengan seenak jidat bilang gak ada
alesan buat nerima dia? Apa kamu belum pernah liat sandal melayang nyangkut di
atas kepala ya?” Jawab Octa dengan penuh kekesalannya.
“Yaampun Octa,
kamu marah-marahin aku Cuma gara-gara aku nolak tawaran Andy tadi pagi?” keluh
Claudia pasang tampang dramatisir yang sudah gak mempan utuk meredakan
kemarahan Octariani.
“itu…. Emmm…. Bukan….
Emmm…. Cuma…..” Jawab Octa.
Claudia tampak
menghembuskan nafas secara perlahan. Merasa lelah dan percuma untuk melalukan
perdebatannya dengan Octa. Terlebih berdebat dengan Octariani. The Master of
Debater!
“Udah deh, gak
usah dibahas. Aku mau pulang. Kamu mau bareng atau enggak?” Tanya Claudia
mengalihkan pembicaraan. Diraihnya tas yang berada diatas meja lalu siap untuk
pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan yang terlontar dari
mulut Octariani.
“Hanya karena
tidak ingin terluka bukan berarti kamu harus takut untuk merasa bahagia”
Walau berat untuk
mengakui, Claudia mengerti kalau apa yang Octariani ucapkan ada benarnya. Tapi,
rasa ego masih bersarang dihatinya. Tanpa berbalik ia kembali melangkah. Meninggalkan
Octariani terpaku sendirian.
Sambil melangkah angan
Claudia melayang sangat jauh. Sejauh mimpi yang ingin ia raih. Dengan perlahan
ia melangkah kedalam bus yang akan membawanya pulang ke rumah. Matanya mengamati
sekeliling. Entah memang takdir atau hanya kebetulan didunia ini selalu ada. Hampir
semua bangku penuh kecuali bangku yang berada tepat di belakang sopir. Harusnya,
ya harusnya Claudia sama sekali tidak keberatan untuk duduk disana kalau saja
matanya tak lebih dahulu mengenali siapa sosok yang duduk disana dengan mata
terpejam. Andy, seseorang yang ia tolak tadi pagi.
Sempat merasa ragu
namun pada akhirnya Claudia melangkah kearah bangku itu, mendaratkan tubuhnya
secara perlahan. Merasa kehadiran seseorang di sampingnya refleks Andy membuka
matanya. Bola mata hitam nan tajam langsung terarah menuju Claudia yang hanya
mampu tersenyum kaku. Mendadak merasa menyesal akan keputusannya. Harusnya tadi
ia lebih memilih untuk berdiri saja dari pada berada dalam situasi seperti ini.
Sebuah senyum
tulus yang tergambar diwajah Andy pada detik berikutnya langsung menghancurkan keraguan
Claudia. Senyum itu, walau samar tapi terlihat tulus. Bahkan mampu menular pada
dirinya. Terbukti saat tanpa di sadari bibirnya juga tertarik membentuk
lengkungan.
“Baru mau pulang?”
Tanya Andy membuka pembicaraan.
Kepala Claudia
hanya bisa mengangguk. Mulutnya masih terkunci. Bingung mau berkata apa. Pada saat
bersamaan, Andy ikut mengangguk. Sebuah formalitas semata sepertinya. Untuk sejenak
suasana kembali sepi. Hening yang meresahkan, setidaknya itu yang Claudia
rasakan. Kepalanya sedikit menoleh kearah Andy yang tampak kembali pada
aktifitas sebelum kedatangannya. Memejamkan mata. Sementara bus juga sudah
kembali berjalan.
“Maaf?”
“Eh?” Claudia
menoleh. Menatap lurus ke aras Andy, sementara yang ditatap sama sekali tidak
terpengaruh. Tetap asik dengan kebisuannya. Seolah kalimat yang baru saja
ditangkap oleh indra pendengaran Claudia hanyalah halusinasi semata.
“Untuk yang tadi
pagi, aku minta maaf”
Kali ini Claudia
yakin kalau ia tidak salah dengar. Terlebih Andy membalas tatapannya. Masih dengan
senyum yang terus menghiasi bibirnya.
“Harusnya aku yang
meminta maaf” Gumam Claudia lirih.
“Untuk?” Tanya
Andy.
“Eh?” Claudia yang
tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu spontan menjadi salah
tingkah.
“Untuk penolakan
yang kau lakukan tadi? Sepertinya tidak perlu terlalu difikirkan. Setiap orang
punya prinsipnya masing-masing. Lagi pula tadi itu aku juga hanya ingin
mengungkapkan perasaanku saja. Soal kamu yang tidak menyukai ataupun memiliki
rasa yang sama seperti aku sama sekali tidak aku pikirkan. Walau jujur saja aku
berharap kamu memang punya rasa yang sama” Jawab Andy
Lagi-lagi Claudia
membisu. Tak tau harus berkata apa.
“Kenapa?”
“Eh?” Gantian Andy
yang menoleh bingung.
“Kenapa harus aku?”
Tanya Claudia menegaskan maksud ucapannya.
Lama Andy membisu.
Tidak langsung menjawab pertanyaannya.
“Karena Bahagia
itu kita yang rasa. Dan aku ingin membag rasa bahagiaku bersama orang yang ku
cintai. Dan orang itu adalah kamu”
Biar singkat tapi
Claudia merasakan ketegasan dari setiap patah kata yang keluar dari mulut sosok
disampingnya. Tanpa sadar sebuah senyum bertenger disudut bibirnya. Ditatap wajah
Andy yang juga tersenyum. Hanya senyuman. Tanpa kata. Apalah arti kata bila
hati sudah cukup untuk menjawabnya.
Minggu, 21 Juli 2013
Aku Ingin Memelukmu
Aku ingin
memelukmu
Walau rengkuhan jarak itu tak pernah mengizinkan kita bertemu
Aku ingin memelukmu
Walau jemari kita belum saling menggenggam sampai detik ini
Aku ingin memelukmu
Walau kita belum saling tahu dan bertemu
Aku ingin memelukmu
Walau tinggi badanmu jauh diatasku
Aku ingin memelukmu
Saat kamu kelelahan menjalani riuhnya aktivitas
Saat kamu rapuh dan menangis
Saat kamu merasa bahwa dunia terlalu keras untuk kaujalani sendiri
Saat kamu mengira tak seorangpun yang peduli pada perasaanmu
Aku ingin memelukmu
Saat pertama kali aku membuka mata dari tidur lelapku
Saat hanya kamu yang kulihat dibangun pagi hariku
Aku ingin memelukmu
Di bawah hangatnya sinar mentari pagi
Di bawah teriknya surya yang meradang garang
Di bawah redupnya matahari kala senja
Di bawah sinar rembulan dengan hiasan bintangdi langitnya
Aku ingin memelukmu
Saat angin dengan nakalnya menggelitikmu dan meniup lembut rambutmu
Aku ingin memelukmu
Saat rindu mengganggu laju kerja otak dan hatimu
Aku ingin memelukmu
Saat langit sedang menenun benang-benang hujan
Lalu kita saling berpeluk dibawah deras rindunya
Hanya berpayung rambut basah dengan balutan senyum bahagia
Sungguh, aku mencintaimu
Walau rengkuhan jarak itu tak pernah mengizinkan kita bertemu
Aku ingin memelukmu
Walau jemari kita belum saling menggenggam sampai detik ini
Aku ingin memelukmu
Walau kita belum saling tahu dan bertemu
Aku ingin memelukmu
Walau tinggi badanmu jauh diatasku
Aku ingin memelukmu
Saat kamu kelelahan menjalani riuhnya aktivitas
Saat kamu rapuh dan menangis
Saat kamu merasa bahwa dunia terlalu keras untuk kaujalani sendiri
Saat kamu mengira tak seorangpun yang peduli pada perasaanmu
Aku ingin memelukmu
Saat pertama kali aku membuka mata dari tidur lelapku
Saat hanya kamu yang kulihat dibangun pagi hariku
Aku ingin memelukmu
Di bawah hangatnya sinar mentari pagi
Di bawah teriknya surya yang meradang garang
Di bawah redupnya matahari kala senja
Di bawah sinar rembulan dengan hiasan bintangdi langitnya
Aku ingin memelukmu
Saat angin dengan nakalnya menggelitikmu dan meniup lembut rambutmu
Aku ingin memelukmu
Saat rindu mengganggu laju kerja otak dan hatimu
Aku ingin memelukmu
Saat langit sedang menenun benang-benang hujan
Lalu kita saling berpeluk dibawah deras rindunya
Hanya berpayung rambut basah dengan balutan senyum bahagia
Sungguh, aku mencintaimu
Langganan:
Postingan (Atom)