Sabtu, 22 Agustus 2015

Untitled (II)

Air mataku ternyata belum cukup dewasa untuk menahan agar tidak terjatuh

Jiwaku hening
Tak ada tangan yang memapah
Tak ada pundak untuk ku rangkul
Semenjak saat itu seringkali merasa sendiri
Sendiri yang menjadi sunyi 
Tentangku, semuanya menjadi sepi

Hening selalu datang untuk melayat kesedihanku yang berhias gugur kamboja 

Waktu terus berjalan
Namun, aku masih tertinggal disini
Dijaring rindu yang amat dingin

Bila rindu bagimu hanya sekedar sebaris ucap, lupakan saja rindunya.

Rabu, 19 Agustus 2015

Rindu itu apa?

“rindu itu apa?” tanyaku pada seorang yang terabaikan. ia bergeming, lalu duduk mendekap lutut. rindu, segetir itukah?

“rindu itu apa?” tanyaku pada seorang yang kesepian. ia diam, lantas menyudut di tepi dinding kusam. rindu, sedingin itukah?

“rindu itu apa?” tanyaku pada seorang yang ditinggalkan. ia membuang muka, lantas beringsut menjauh. rindu, seperih itukah?

“rindu itu apa?” tanyaku pada seorang yang patah hati. ia tercekat, lalu embun mulai jatuh dari kelopak matanya. rindu, sepedih itukah?

“rindu itu apa?” tanyaku pada seorang yang sedang mencintai diam-diam. ia bersimpuh, lalu bergumam memanjatkan doa-doa. rindu, sehening itukah?

“rindu itu apa?” tanyaku pada seorang yang terluka. ia berpaling, sesak, dan berpetir air mata. rindu, sesakit itukah?

pada akhirnya, aku tetap tak tahu rindu itu apa. sampai suatu ketika kau datang bersama riang. lantas pergi menyisakan kehilangan.

Senin, 17 Agustus 2015

Selimut dan aksesorisnya

Aku hanya sedang mencoba bagaimana menjadi dewasa terhadap perasaan yang aku rasakan
Dan sebisa mungkin untuk mengontrolnya
Mengolahnya agar tidak meluap
Aku takut nantinya akan membanjiri pipiku, apalagi menjebolkan emosiku

Apa kamu pernah merasakan bagaimana rasanya mendapatkan butir-butir pahit di setiap harinya?
Di setiap pergantian hari, kamu akan menghadapkan setetes saja rasa manis yang belum kamu dapat

Aku (tidak) baik-baik saja
Sesekali coba tatap kedua mataku sebentar
Disana, kamu bisa melihat beberapa banyak sedih yang telah ku simpan
Senyum adalah selimut yang setia setiap saat ku pakai tiap harinya 
Dan diam adalah aksesorisnya

Coba untuk sekali saja jangan percaya jika aku sedang senyum
Coba untuk sekali saja jangan percaya jika aku sedang tertawa
Selami hatiku
Hatiku butuh kamu



Aku antar rindu, terserah mau kamu apakan.

Aku sudah mulai untuk membiasakan hal-hal yang sebelumnya sama sekali tidak biasa untukku
Tentang melawan rindu
Aku sadar, bahwa rinduku ini adalah teman
Dan akupun sadar betul, bahwa rinduku ini adalah lawan

Memejam
Aku benci memejam
Semakin aku memejam semua tentangmu, tidaklah mudah semudah memadamkan api dengan air
Tidur cepat adalah satu-satunya caraku
Agar tidak ada sela waktu untuk memikirkan kamu
Tapi mimpiku menghidupkanmu. Lalu, membangunkanku

Aku merindukan mawar sekaligus durinya
Aku merindukan hujan sekaligus petirnya
Aku merindukan kamu baik buruknya
Sudah biasa aku menahan
Kini tinggal aku untuk melawan
Aku hanya sebagian kecil dari rindu yang begitu besar
Sudah ku bagikan lewat tulisan, tapi rindu ini tak pernah habis

Aku tidak memerlukan perlengkapan apapun untuk melawan 
Aku hanya perlu melatih hatiku. Itu saja

Malam ini
Meskipun kita tidak saling menatap
Aku antar rindu, terserah mau kamu apakan


Untitled (I)

Di hadapan malam ini
Yang penuh dengan pratanda dan bintang dilangit
Dan untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar kehilangan...
Kamu.

Aku yang kini merasa paling sendiri
Paling sepi
Paling sunyi
Dan berdiri ditempat paling nyeri

Seperti pemain drama yang linglung di panggung
Lupa nama
Lupa peran
Lupa adegan
Lupa skenario
Lupa kembali menjadi diri sendiri

Apa mungkin aku telah kehilangan arah?
Rasanya bukan mungkin, tapi memang
Aku hilang arah yang harus terus melangkah
Ingin berlari sampai pagi
Ingin mengejar binar matahari
Tapi nyatanya aku masih terdiam disini

Aku bisu
Terpaku dalam lembaran mimpi

Aku tersentak
Ketika denting waktu memanggilku
Dan aku terbangun
Aku mencari sesuatu
Hanya ada boneka
Ketika itu kusadari, ada sesuatu yang hilang
Ku mencoba bertanya padanya
"Ketika cinta kehilangan makna, apa mungkin kasih setia itu masih ada?"

Answer and ask ur heart the most in

Kamis, 20 Februari 2014

Berkhayal, Bermimpi dan Berharap.

Aku tak pernah meminta hal yang terlalu berlebihan pada Tuhan.
Lalu, apa menginginkan cinta itu hal yang berlebihan? Apa menginginkan kebahagiaan berpihak padaku itu hal yang berlebihan? Atau, apa menginginkan kamu itu adalah hal yang paling berlebihan?
Katakan padaku jika permintaanku itu benar-benar belebihan. Untuk siapapun yang membaca tulisanku ini, aku hanya pastikan bahwa aku sedang dan selalu berkhayal. Berkhayal yang tak sepantasnya aku khayalkan dalam pikiranku, yaitu kamu. Kamu mungkin bertanya-tanya berapa lama aku berkhayal tentangmu, atau kamu bertanya-tanya mengapa aku bisa berkhayal terus menerus seperti itu? Jika kamu tanyakan itu, aku tak akan menjawab dan sebenarnya memang karna aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Indah memang, ketika aku duduk disampingmu, atau aku tiba tiba jatuh dan kamu menolongku atau bisa saja ketika kamu mencium keningku, ah.... kalian sepertinya tau itu hanya cukup menjadi khayalanku saja.
Tidur adalah salah satu pengantarku untuk berjalan kesuatu tempat dimana aku bisa merubah jalan hidup semauku, bergandeng tangan dengannya adalah hal yang paling aku tunggu-tunggu ketika aku tidur. Atau........ berpelukan dengannya juga menjadi salah satu hal yang paling aku inginkan. Sesuatu yang membuatku bisa tersenyum tanpa paksaan, sesuatu yang bisa membuatku berlari tanpa harus menangis, sesuatu yang bisa membuatku hidup dari kehidupan yang nyata. Entah ini namanya apa, rasanya aku tak ingin terbangun jika saja aku sedang bermimpi mengarungi semua perjalananku denganmu.
Ketika suatu saat aku harus terbangun dari tidur dengan keadaan bermimpi indah denganmu, terpaksa aku harus tertap berjalan meskipun harapan itu masih ada dalam hati dan pikiranku. Memang tak ada salahnya jika seseorang berharap pada tujuannya, tapi jika harapan itu memang sudah tidak ada lagi aku rasa aku juga harus pergi dari harapan yang membuatku merasa gantung diri. Lebih tepatnya kamu yang membuatku merasa gantung diri seperti ini. Tak heran jika banyak orang yang mudah putus asa ketika harapannya tak kunjung datang dengan seiring berjalannya waktu.
Berkhayal bersamamu itu adalah kegemaranku untuk menghabiskan waktu tanpa kamu.
Bermimpi bertemu denganmu itu adalah rindu yang selalu aku rasakan ketika aku dan kamu sudah tak bisa untuk menyatukan genggaman ini.
Dan berharap untuk denganmu lagi itu adalah caraku menunggumu dengan segala harapan yang ada bahkan aku tak tau lagi otakku itu seperti apa macamnya, entah bodoh atau tolol yang hanya bisa berharap disini tanpa kamu mengetahuinya.


Meskipun aku tau semua itu hanya menyiksa dan perlahan-lahan membuatku sakit.



Senin, 11 November 2013

Pagi ini tanpa kamu



"Malam itu kau mencium keningku. Selalu mengatakan bahwa kau selalu mencintaiku. Tapi, tidak dengan pagi ini"

Aku seperti membawa beban yang begitu berat dipunggungku, berat sekali. Mungkin ini adalah salah satu skenario yang Tuhan tulis untukku, dan bahkan untukmu juga.

Ponselku selalu bordering kala pagi hari. Ini memang selalu menjadi rutinitas yang selalu aku jalani, mengambil ponselku dan membuka pesan masuk ketika aku terbangun. Aku selalu mendapat sambutan yang begitu manis setiap pagi ketika mataku mulai terbuka.
Tapi entah apa yang benar-benar aku rasakan pada pagi ini. Aku memang mendapat pesanmu ketika mataku terbuka, tapi mengapa tiba-tiba air mata itu terasa begitu saja terjun bebas dan mengalir pada pipiku?

Itukah sambutan yang ku bilang begitu manis setiap paginya? Iya, memang akan begitu manis, tapi untuk kemarin. Bukan untuk hari ini atau untuk pagi selanjutnya.
Perpisahan bukan berarti perasaan ini hilang, bukan berarti aku pergi darimu. Atau bahkan perpisahan ini berarti jika aku tak menginginkanmu lagi, bukan itu.
Aku benci ini. Benci disaat waktu dan keadaan yang secara tiba-tiba menarik kita untuk masuk kedalam zona perpisahan  yang tak pernah jelas asalnya dari mana.

Aku mengerti karna kita pernah merasakan yang namanya pertemuan, memang pada dasarnya kita harus siap untuk merasakan perpisahan. Karna aku tau pertemuan dan perpisahan itu sudah menjadi satu paket. Tapi apa perpisahan itu tak bisa semanis dan semudah pertemuan?
Dear you, listen to me. “I love you to the moon” - A